Hamba-Hamba Ar Rahman By: Mohammad Yasser Fachri.

“Dan hamba-hamba Ar Rahman itu (adalah) orang-orang yang berjalan dimuka bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka selalu berucap ‘salam’ (kedamaian)” (QS Al Furqan [25]:63)

Ketika berita-berita dalam negeri dipenuhi oleh kegiatan dewan perwakilan rakyat yang penuh dengan ketegangan, argumentasi dan adu mulut yang amat tidak santun, sebuah berita yang teramat penting luput dari kita. Berita yang datang dari sebuah negeri yang penuh konflik dan sesuatu yang digambarkan oleh Rasulullah Saw sebagai tempat perang akhir zaman akan berlangsung…Palestina.

Hamba itu tanpa sengaja merekam sebuah podcast dari website CNN dimana salah seorang jurnalist kondangnya, Christiane Amanpour mewawancari seseorang bernama Mosab Hassan Yousef, putera dari Sheik Hassan Yousef salah seorang pendiri gerakan Hamas yang saat ini masih mendekam dalam penjara.

Mosab menjadi sumber berita setelah menerbitkan buku yang ia beri judul, “Son of Hamas” yang menceritakan perjalanan hidupnya. Dimulai sejak ia dipenjara bersama dengan ayahnya oleh pemerintah Israel, dan berhasil keluar setelah menyetujui untuk menjadi bagian dari badan intelijen pemerintah Israel yang ditakuti yaitu Shin Bet. Ia bekerja untuk badan intelijen ini selama sepuluh tahun dan mengkonversi dirinya dari seorang pemeluk islam yang taat menjadi seorang pemeluk agama katholik pada tahun 2005.

Dalam wawancaranya dengan Christiane Amanpour, satu pernyataannya yang amat menghentakkan adalah ketika ia berkata, “Our problem right now is not with a bunch of terorrist … Our real problem right now is moslem ideology….The God of Islam. We’re dealing with a gangster of the world which is The God in the Quran…”

Subhanallah…..Hancur rasanya hati ini mendengarnya…Geram dan amarah muncul di jiwa yang ingin secepat mungkin dilampiaskan….tapi sadar bahwa itu tak akan berguna. Satu yang terucap dari lisan. “Ya Allah, Engkau yang telah menciptakannya dan Engkau telah menutup mata hatinya dari mengenal Mu. Maha Suci Engkau dari apa yang hamba Mu itu tuduhkan. Jika Engkau berkehendak, Engkau dengan mudah akan membinasakannya saat ini juga. Jika Engkau biarkan ia, Engkau amat berkuasa akan hal itu.”

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan Nya? Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q.S. Al Jatsiyah [45]: 23)

Tak pantas rasanya kita mengomentarinya, tapi adalah kepantasan bagi kita untuk menjadikannya pelajaran seperti yang Allah Azza wa Jalla sebutkan pada ayat diatas. Allah Maha Menunjukkan kepada kita kekuasan-Nya. Dia menunjukkan jalan kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan kepada siapa yang Dia kehendaki pula. Betapa bersyukurnya kita sebagai hamba-Nya yang telah Dia pilih untuk menetapi jalan-Nya yang lurus. Tujuh belas kali dalam sehari semalam, paling sedikit kita memohon, “Ihdinassiratal mustaqim (tunjukilah kami ke jalan yang lurus)”. Kita sama-sama menyadari betapa hidayah itu begitu mahalnya bagi seorang hamba, bukan harta, bukan kekuasaan dan bukan pula kesuksesan.

Kalaulah kita melihat sedikit ke belakang, perjalanan seorang hamba berawal dari keimanan kepada-Nya. Setelah itu ia berusaha untuk meraih ketaqwaan. Ketaqwaan yang memiliki derajat-derajat kemulian yang berjenjang bagai anak tangga yang perlahan-lahan ditapaki. Ujian hiduplah yang menentukan apakah seorang hamba itu berhasil naik ataukah tetap pada tempatnya. Allah menetapkan ujian hidup untuk hamba-hamba-Nya bukanlah untuk diri-Nya tapi agar sang hamba lebih mencintai-Nya dan memperoleh derajat kemulian yang berjenjang itu. Satu ujian untuk satu anak tangga kemuliaan…begitu seterusnya sampai akhirnya Allah memanggilnya dengan sebutan “Wa Ibaddurahman” yang berarti “Hamba-Hamba Ar Rahman” pada QS Al Furqan ayat 63 diatas. Kita biasa menyebutnya dengan “orang-orang yang sholeh”. Sungguh amat indah panggilan itu. Sebuah panggilan kasih sayang yang menentramkan.

Setelah ketinggian derajat diperoleh, maka akan memancar dari “Hamba-Hamba Ar Rahman” sifat-sifat yang baik. Rendah hati dan selalu menyebarkan kedamaian adalah hal yang amat menonjol dari dirinya. Allah kemudian menerangkan ciri-ciri hamba-hamba-Nya itu dalam lanjutan ayat, “mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati (Haunan) dan selalu menyebarkan “kedamaian” (salam) walaupun orang-orang yang jahil berusaha mengganggu mereka…

Inilah mungkin yang tidak pernah dirasakan seorang Mosab Hassan Yousef. Ia hidup dalam kegamangan dan ketakutan. Tidak ada kedamaian yang memancar dari dirinya. Tidak ada sikap rendah hati. Didikan agama baginya hanyalah sebuah ritual yang menghanyutkan. Walaupun, seperti pengakuannya, ia hafal separuh dari Al Quran, ia tidak dapat memahaminya. Sholat dan doa-doa yang ia panjatkan hanya bagai sebuah hafalan ayat yang tak pernah terjawab. Ia kecewa dan merasa ditinggalkan oleh Allah Azza wa Jalla. Hidup baginya bukan lagi dipenuhi dengan ujian demi ujian kasih sayang Allah, tapi lebih kepada bagaimana caranya keluar dari ketakutan dan meraih kesuksesan. Ia amat naïf untuk menyadari bahwa bukanlah kesuksesan yang harus diraih dalam hidup ini dengan menerbitkan buku dan menjadi terkenal ke seluruh dunia setelah diliput di CNN, tapi seharusnya hidup yang amat sebentar ini mengajarkan kepadanya, bagaimana ia harus melakukan kebaikan demi kebaikan sebagai bekal bagi seorang hamba untuk menghadap-Nya kelak di akhirat.

Rasulullah Saw pernah menyampaikan kepada sahabat-sahabatnya, “Hidupku di dunia ini bagai seorang musafir yang berteduh sebentar dibawah pohon untuk kemudian pergi meninggalkannya. Perbandingan kehidupan dunia ini dengan akhirat adalah seperti seseorang dari kalian yang memasukkan jari-jari tangannya ke dalam lautan. Lautan bagai sebuah kehidupan akhirat sedang air yang menempel pada jari adalah kehidupan dunia. Perhatikanlah apa yang ia peroleh. Air yang menempel itu akan menetes habis ketika diangkat.” (HR Muslim dan At Tirmidzi)

Benarlah apa yang Rasulullah Saw ajarkan untuk umatnya. Kita haruslah menjadi seorang musafir di dunia ini yang tidak akan pernah terikat dan terpikat dengan apapun yang ada di dalamnya karena kita yakin suatu saat kita pasti meninggalkannya. Sebuah hadish Qudsi berikut ini hendaklah menjadi pelajaran bagi kita:

Nabi bersabda, “Ketika Allah bertemu dengan hamba-Nya kelak di tempat berhisab. Allah akan memanggil hamba-Nya itu dengan panggilan kasih sayang dan berkata, ‘Wahai hamba-Ku, ketika di dunia dahulu, aku memberimu ujian dengan penyakit yang menyulitkan, engkau sabar. Ketika aku mengujimu dengan mengambil dari sisimu orang yang engkau cintai, engkau juga sabar. Ketika Aku mengujimu dengan mengambil dari sisimu harta yang menyebabkan engkau menjadi amat miskin, engkau tetap sabar…..Wahai hamba-Ku, dibelakang Ku ini terdapat pintu-pintu surga yang terbuka untukmu. Pilihlah dari mana engkau ingin memasukinya….” (HR Muslim)

Wallahu a’lam Bissawab
M. Fachri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: