MUHAMMAD Saw By: Mohammed Yasser Fachri.

http://edakwahkita.blogspot.com

Naskah ini ditulis untuk mengenang seorang yang agung dihari kelahirannya…

Dalam perjalanan hidupnya Rasulullah Saw pernah dianugerahi Allah seorang putera dari istri yang bernama Maria Qibthi. Nabi memberinya nama Ibrahim dan amat bahagia dalam menjalani hari-harinya setelah lama tidak lagi beroleh keturunan. Saat itu umur Nabi hampir mencapai 60 tahun. Namun ternayata umur Ibrahim tidaklah panjang. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa ketika umur Ibrahim mencapai enam belas bulan, ia jatuh sakit.

Disaat Rasulullah Saw sedang berada di masjid, salah seorang pembantunya memberitahu bahwa Ibrahim dalam kondisi yang semakin memburuk. Berat hati Nabi untuk melangkah. Nabi memanggil seorang sahabatnya Abdurrahman bin ‘Auf ra untuk mengantarkannya menuju rumah istrinya itu. Sesampainya di rumah, Nabi melihat Ibrahim dengan jasadnya yang masih mungil menghembuskan napas-napas terakhirnya dipangkuan ibunya, Maria Qibthi. Nabi meminta izin untuk memeluk puteranya itu sembari memangkunya dan berkata,

“Wahai Ibrahim, sungguh kami sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk melindungimu dari (ketentuan) Allah Azza wa Jalla.”

Ibrahim menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pangkuan Rasulullah. Begitu pedih terasa. Enam belas bulan membesarkannya dalam kecerian dan kebahagiaan beroleh seorang putera. Harapan akan seorang yang akan mewarisi dirinya. Diawal kelahirannya para sahabat juga merasa amat sangat bahagia bahwa Rasulullah telah memiliki seorang pewaris yang akan mewarisi kemuliaan dan kekuasaan yang Allah berikan kepadanya seperti Nabi Ibrahim kepada puteranya Ishak dan Ismail, Nabi Daud kepada puteranya Sulaiman. Begitu juga dengan Nabi ya’kub kepada puteranya Yusuf . Ternyata semua itu pupus sudah dengan ketentuan yang Allah telah tetapkan.

Dalam linangan air mata dan kesedihan yang mendalam, Rasulullah berkata, “Wahai Ibrahim, kalau bukan karena kebenaran yang nyata dari Allah dan janji yang pasti ditepati bahwa orang yang akan berpulang di kemudian hari akan menyusul orang yang lebih dahulu berpulang, kesedihan kami atas kematianmu akan lebih hebat dari kesedihan kami saat ini.”

Melihat keadaan ini, Abdurrahman bin ‘Auf ra berkata, “Ya Rasulullah mengapa Engkau bersikap demikian?” Nabi menjawab, “Ibnu ‘Auf, aku hanya seorang manusia seperti kalian. Sikapku ini adalah merupakan rasa kasih sayang. Sungguh mata ini berlinang dan hati ini pedih, namun lisanku tidak akan mengeluarkan kata-kata kecuali yang diridhai Allah. Sungguh aku merasa sedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim.”

Allahumma Shalli ‘ala Muhammad….Sebuah contoh yang sangat agung dari seorang Rasul Allah yang telah ia ajarkan kepada umatnya. Tak pernah dalam hatinya Nabi berburuk sangka terhadap apapun yang Allah tentukan untuknya. Tidak juga ketika Allah mencabut nyawa seorang kekasih hatinya.

Selama hidupnya Nabi selalu mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya dan kita umatnya seluruhnya untuk selalu bersangka baik terhadap apapun yang Allah tetapkan kepada kita. Hidup itu bagai roda yang berputar. Kesedihan dan Kebahagiaan datang silih berganti tanpa dapat kita prediksi kedatangannya.

Suatu ketika Rasulullah Saw mendatangi sahabat-sahabatnya yang sedang duduk berkumpul dan bertanya, “Apakah kalian ini orang-orang yang beriman?” Para sahabat diam seribu bahasa. Umar Ibn Khatab ra memberanikan diri dan berkata, “Benar wahai Rasul Allah!” Nabi kemudian bertanya kembali, “Apa tanda-tandanya?” Umar menjawab, “Kami bersyukur bila mendapat kelapangan, bersabar bila mendapat kesempitan dan menerima dengan lapang dada apapun yang Allah tetapkan untuk kami.” Nabi menjawab, “Demi Zat yang aku dalam genggaman-Nya, kalian adalah betul orang-orang yang beriman.” (HR Ahmad & At Tirmidzi)

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabb mu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini (pasti) memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az Zumar [39]:10)

Wallahu a’lam Bissawab

M. Fachri

(Referensi: Akhlak Rasul Menurut Bukhari & Muslim karya Abdul Mun’im Al Hasyimi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: