Kekuatan Diri By: Mohammad Yasser Fachri.

Kekuatan Diri By: Mohammad Yasser Fachri.

“Ya Allah, Engkau telah menciptakanku dengan baik, maka baguskanlah akhlakku” (HR Ahmad)

Dalam kehidupannya, manusia ingin selalu memiliki ‘sesuatu’ yang dapat dipandang sebagai kekuatan dirinya. Ia amat berharap dengan kekuatan diri yang ia miliki, ia akan dihormati oleh orang lain, diterima di masyarakatnya dan menjadi teladan bagi banyak orang. Banyak dari kita menganggap bahwa ‘sesuatu yang menguatkan diri itu adalah harta, kekuasaan dan ilmu.

Ilmu pada awalnya akan membuka jalan bagi seseorang untuk memperoleh harta ataupun kekuasaan. Dengan harta, seseorang dapat beroleh kuasa. Ia akan dapat ‘membeli’ apa saja yang ia inginkan. Jangankan materi, orang-orang yang tadinya jauh dari ketundukan kepadanya, dapat ia ‘beli’ dan menjadi seseorang yang selalu menuruti keinginannya. Demikian juga dengan kekuasaan yang dimiliki, ia dapat berbuat apa saja untuk mengatur dan merekayasa segala hal yang dapat menguntungkan dirinya termasuk untuk mendapatkan harta yang banyak.

Harta dan kekuasaan pada akhirnya menjadi ikon yang amat diimpikan oleh siapapun dalam kehidupan ini. Kita hanya dapat berkata bahwa untuk meraih kesuksesan, orang harus memiliki harta dan kekuasaan. Tiada lain dan tiada bukan dengan keduanya seseorang akan dinilai ‘sukses’ dalam hidupnya. Sukses pula yang, kita pikir, dapat mengantarkan manusia menjadi bahagia dalam hidupnya karena semua keinginannya akan terpenuhi dan hidup sangat mapan dan bahagia.

Rasulullah mengajarkan kepada kita suatu hal yang amat sederhana yang dapat menjadi kekuatan diri. Sesuatu yang akan menjadi sebuah kekuatan besar dalam diri seorang hamba Allah.

Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR Bukhari, Muslim dan At Tirmidzi).

Seharusnya dengan ilmu yang dimiliki, seseorang akan menjadi lebih baik dalam kehidupannya. Sejak kecil kita selalu diingatkan akan sebuah falsafah hidup, ‘ilmu padi’. Ketika makin berisi, ia semakin merunduk. Ilmu yang kita dapatkan seharusnya dapat memberi ketentraman pada diri sendiri dan maslahat bagi orang-orang disekitar kita. Harta dan kekuasaan bukanlah sebuah kekuatan diri melainkan hanya sarana untuk berbuat kebajikan.

Kita melihat disekeliling kita saat ini, begitu banyak keburukan yang bersumber pada akhlak yang buruk pula. Sifat Kasar, Ceroboh, tipu menipu, ingin menonjolkan diri dan memaksakan kehendak adalah beberapa contoh yang sangat nyata disekeliling kita. Lihatlah prilaku pengandara motor dan mobil yang ada dijalanan. Saling serobot dan enggan untuk mengalah adalah bagaikan menu sehari-hari yang harus kita telan, suka atau tidak suka. Demikian juga dengan prilaku perdagangan dan bisnis. Saat ini ketidakjujuran, demi keuntungan yang sedikit, menjadi hal yang dominan sehingga menimbulkan ketidakpercayaan.

Jika kita telusuri, sebuah hadish Nabi dapat menjadi penjelasnya. Rasulullah Saw bersabda, “Aku diutus (menjadi rasul oleh Allah Azza wa Jalla) untuk memperbaiki akhlak” (HR Bukhari dan Muslim). Inilah sebenarnya essensi dari ajaran islam itu. Siapapun yang bertaqwa pastilah akan memancar dari dirinya akhlak yang terpuji. Allah Azza wa Jalla memuji Rasulullah Saw dengan sebuah ayat di Al Quran, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS Al Qaam [68]:4).

Satu yang dapat menjadi renungan bagi kita saat ini. Pantaskah kita yang mengaku mencintai Rasulullah dan selalu ingin mengamalkan ajarannya malah menjadi manusia-manusia yang terbiasa memaksakan kehendak? Bersifat kasar? Ingin menang sendiri? Tidak mau berbagi walaupun merasa cukup? Dan menjadikan kebohongan menjadi bagian dari kesehari-harian kita?

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, sebahagian kita menyambutnya dengan gegap gempita perayaan maulid nabi, sedangkan sebagian dari kita berusaha menghindarinya karena takut akan sebuah pekerjaan yang bid’ah. Terlepas dari segala kontroversinya, ternyata apa yang Rasulullah Saw sampaikan itu belumlah merasuk dalam diri kita. Sebuah essensi ajaran yang sederhana yang dapat menjadi kekuataan diri: ‘akhlak yang mulia’ yang akan menjadi cahaya bagi diri kita dimanapun kita berada dan terhindar dari segala fatamorgana kehidupan dunia yang bisa jadi melalaikan dan teramat tidak penting.

Dalam sebuah kehidupan yang amat sangat singkat ini, hendaklah selalu kita resapi apa yang menjadi pesan seorang manusia agung, Rasulullah Saw:

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah perbuatan buruk dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik supaya perbuatan baik itu menghapus perbuatan buruk (yang telah dilakukan), bergaulah dengan orang lain dengan bersandar pada akhlak yang terpuji.” (HR At Tirmidzi)

“Amal yang menjadikan timbangan seorang mukmin berat di hari akhirat kelak adalah akhlak yang terpuji. Sesungguhnya Allah membenci orang yang melewati batas-batas (kewajaran) dan tidak punya sopan santun.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

–M. Fachri–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: