Tanda-Tanda Kebesaran-Nya. By: Mohammad Yasser Fachri.

Sebuah tulisan untuk Raina…

Ketika hamba itu bersama seorang putrinya mengamati langit malam itu, sang putri memakai teleskopnya dan berusaha mengenali gugusan bintang-bintang dengan ‘Peta Rasi Bintang’ yang dimilikinya. Salah satu koleksinya yang amat berharga. Bulan terlihat di arah timur dalam bentuknya yang purnama penuh dengan temaram. Di samping kirinya terlihat planet Mars yang berwarna kemerahan seperti sebuah titik besar yang jernih. Dalam beberapa hari terakhir ini, Mars sedang dalam jarak terdekatnya dengan Bumi sehingga mudah untuk ditandai. Sang putri amat antusias dan terlihat sangat bahagia dengan semua yang ada. Keceriaan itu terpancar dari wajah kecilnya dan matanya yang berbinar-binar. Terlontar sebuah pertanyaan dari lisannya yang mungil, “Untuk apa Allah menciptakan semua planet-planet ini? Apakah ada makhluk lain disana?” Hamba itu tersenyum mendengar pertanyaannya yang khas. Sebuah antusiasme gaya seorang anak yang penuh dengan keingintahuan yang tak dapat dibendung.

Hamba itu menjawab, “Semua itu adalah tanda kebesaran Allah untuk kita manusia. Kita di alam semesta ini bagaikan debu kecil yang tidak berharga. Planet kita bukanlah planet terbesar di alam semesta. Dan manusia hanya satu dari begitu banyak makhluk yang Allah ciptakan yang hanya Dia yang mengetahui namanya masing-masing dan tempat tinggalnya. Allah ingin menunjukkan kepada kita begitu luas kekuasaan-Nya. Pemilik segala kehidupan di langit dan bumi. Allah menginginkan kita untuk selalu menyadari betapa kecilnya kita dihadapan-Nya dan tak pantas bagi kita untuk melakukan sesuatu untuk menentang-Nya.”

Hamba itu membacakan sebuah ayat al Quran kepada putrinya dan menjelaskannya,

“Dan pada penciptaan kamu (manusia) dan pada makhluk-makhluk yang melata yang bertebaran (dijagat raya) terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang menyakini.” (Al Jaatsiyah [45]:4)

Dari raut wajahnya, sang putri masih ingin jawaban yang dapat ia terima dari sekedar ‘Tanda-Tanda Kebesaran-Nya”. Hamba itu berkata kepadanya, “Tanda-tanda, sesuai dengan pengertiannya berfungsi sebagai penunjuk jalan. Tanda-tanda itu awalnya untuk menarik perhatian dan selanjutnya membimbing seseorang untuk mencapai sebuah tujuan yaitu mengenal Allah dan seluruh kekuasan-Nya. Kekuatannya tidaklah karena tanda-tanda itu memberi gambaran yang jelas dan tepat mengenai kejadian alam semesta, tapi pada kemampuannya membangkitkan kekaguman dan rasa ingin tahu yang lebih dalam mengenai keadaan yang sebenarnya. Manusia berusaha secara terus-menerus untuk memahami keadaan alam semesta ini dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Banyak dari mereka akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa keteraturan ini tidaklah tercipta begitu saja melainkan sebuah ciptaan Allah yang begitu indah.”

Hamba itu kembali teringat akan sebuah ayat Al Quran yang menjelaskan dengan gamblang sebuah penciptaan alam semesta,

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (maksud) yang benar; Dia menyelimutkan malam ke dalam siang dan menyelimutkan siang atas malam serta menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Az Zumar [39]:5)

Dr. Maurice Buccaile, seorang mualaf asal Perancis dalam bukunya, “The Bible, The Qur’an and Science” berusaha menjelaskan kekagumannya akan sebuah kata “menyelimutkan” dalam ayat diatas. Buccaile menulis, “Kata kerja bahasa arab kawwara, yang diterjemahkan sebagai “menyelimutkan” berasal dari akar kata bahasa arab yang sama untuk kata bola (kurah) dan secara pasti memiliki makna membungkus atau membelitkan sesuatu di sekeliling sebuah objek yang bundar, seperti membelitkan tali di sekeliling gulungan benang. Dari prespektif planet bumi, hal ini betul-betul serupa dengan apa yang terjadi dalam kenyataan. Setengah lingkaran malam yang diikuti setengah lingkaran siang diselimutkan pada permukaannya terus menerus. Hal ini disebabkan oleh rotasi bumi dan posisi matahari yang relatif tetap terhadap bumi.”

Buccaile melanjutkan argumennya, “Ungkapan yang digunakan Al Quran dalam menggambarkan hal ini sungguh sangat hebat. Mengingat tingkat pengetahuan di zaman Nabi Muhammad Saw, tidak dapat dibayangkan bahwa banyak pernyataan dalam Al Quran yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan merupakan karya seorang manusia. Jelas Al Quran bukanlah merupakan karya manusia.”

“…Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Ar Rahman itu sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat walaupun penglihatan mu itu dalam keadaan payah.” (QS Al Mulk [67]:3-4)

Wallahu ‘alam Bissawab

M. Fachri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: