Fazlur Rahman. By: Mohammad Yasser Fachri.

Fazlur Rahman.

To members of eDakwah2
By: Mohammad Yasser Fachri.

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan selalu memohon ampunan diwaktu sahur sebelum fajar (shubuh); Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.” (QS Adz Dzaariyaat [51]:15-19)

Dua puluh tahun yang lalu, sebuah buku telah diberikan oleh seseorang kepada Hamba itu. Judulnya sangat singkat: ISLAM karya seorang ulama kontemporer asal Pakistan yang bernama Dr Fazlur Rahman. Seorang guru besar yang akhirnya menetap di Amerika dan menjadi guru besar kajian islam di University of Chicago. Seorang guru bagi tiga cendikiawan muslim Indonesia yaitu Alm. Dr Nurcholis Majid, Dr Amien Rais dan Dr Ahmad Syafii Ma’arif. Buku yang telah dibaca begitu banyak orang-orang non muslim barat yang akhirnya membuka cakrawala pemikiran mereka untuk memeluk agama Islam. Salah satunya adalah Dr Ingrid Mattson, seorang wanita cendikiawan Islam yang kini menjadi prsiden ISNA (Islamic Society of North America). Bagi hamba itu, buku ISLAM karya Dr Fazlur Rahman, telah merubah pemahaman akan nilai sebuah ketaqwaan kepada Allah Azza wa Jalla dan memahami Islam sebagai sebuah jalan hidup yang begitu indah dan menyeluruh. Menjadi sebuah koleksi pemikiran yang selalu menjadi rujukan walaupun sampul buku telah menguning dan terlihat usang dalam bentuk.

Rahman menulis dengan sebuah bahasa yang indah bahwa “Kesan yang paling intens yang ditinggalkan Al Quran bagi pembacanya bukanlah berupa Tuhan yang selalu mengawasi, meregut dan menghukum, sebagaimana yang ada pada kitab suci agama samawi (langit) yang lain. Bukan pula gambaran seorang maha hakim sebagaimana ulama-ulama fiqh islam cenderung memikirkannya, tapi lebih kepada pengenalan kepada Rabb Yang Maha Agung dengan segala sifat-sifat kemuliaan, keagungan, kasih sayang, kebijaksanaan dan keadilan yang tiada tara.” Rahman juga menulis bahwa, “Semangat dasar Al Quran adalah semangat moral. Kedekatan kepada Allah Azza wa Jalla akan selalu tercemin dari sikap seorang muslim yang penuh kelemah lembutan, bijaksana, kasih sayang dan keadilan yang selalu mengisi hari-harinya dalam bahasa Al Quran menjadi ‘Rahmatan lil ‘alamin (kedamaian bagi sekalian alam).”

Dalam situasi dan kodisi saat ini, sesuatu yang relevan untuk kita bertanya, Dimana diri kita dalam pandangan Allah saat ini? Apakah kita telah menjadi ‘rahmatan lil ‘alamin’? Sebagaimana yang Allah inginkan (QS Al Anbiya [21]:107). Kecenderungan bagi kita adalah kadang justru terlihat sebaliknya.
Ketika kita telah merasa dekat kepada Allah, kita bersikap eksklusif dan menjauhi dunia. Kita terlihat kasar dan menyeramkan serta menakutkan bagi manusia lain. Kita seolah hidup dalam dunia kita sendiri dan merasa diri yang paling benar. Kita lebih menonjolkan diri kita dan sulit untuk menerima pendapat orang lain.

Bukankah Rasulullah Saw telah mencontohkan kepada kita sebuah kehidupan yang dijalani dengan bersahaja dan berbaur dalam sebuah masyarakat majemuk? Ada kaum yahudi dan nasrani madinah yang dapat hidup berdampingan dengan mengedepankan saling hormat menghormati. Walaupun di akhir-akhir kehidupan Nabi, secara terang-terangan kaum Yahudi memusuhi Nabi dan mendukung serta membantu kaum kafir Quraish Mekah untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah.

Dalam ayat diatas, Allah memberi kriteria akan seorang hamba-Nya yang ‘rahmatan lil ‘alamin’ yang layak mendapat balasan kebaikan dari sisi-Nya. Allah menyebut hamba-Nya dengan sebutan ‘muhsinin’ yang selalu akan memperoleh rahmat dari sisi-Nya. Kecintaan seorang hamba kepada Rabb-Nya yang mengorbankan kenikmatan tidur hanya untuk menyembah Rabb-nya Yang Maha Agung. Ia sadar akan kelemahan dirinya yang selalu tidak dapat terhindar dari dosa. Ia selalu memohon ampun sebelum waktu fajar (shubuh). Kepekaan sosial selalu diwujudkan dengan membantu manusia lain yang membutuhkan baik ketika mereka meminta ataupun menyembunyikan keadaan mereka walaupun amat membutuhkan bantuan.

Seorang teman bertanya, “Kenapa bagiku sholat tahajud itu begitu sulit dilakukan?” Lebih-lebih ketika dalam keadaan bahagia dan lapang?” Hamba itu hanya bisa menjawab. “Karena kita masih merasa bahwa keadaan bahagia dan lapang itu adalah nikmat Allah yang merupakan ‘hadiah’ atau ‘anugerah’ bagi kita padahal tidaklah demikian adanya. Kelapangan dan kesempitan itu adalah sebuah ujian bagi kehidupan manusia yang selalu datang dan pergi. Ketika kita dilanda kesempitan seharusnya kita banyak bersabar dan ketika kelapangan menerpa seharusnya kita banyak bersyukur yang tidak hanya diwujudkan dengan sedeqah dan infaq saja. Tapi nilai yang paling tinggi disisi Allah adalah ketika kita bangun ditengah malam dan menyembah-Nya dengan linangan air mata dan berkata, “Ya Rabb, Engkau telah memberiku begitu banyak nikmat dalam hidupku. Jadikanlah nikmat itu menjadi sebab kedekatanku kepada Engkau. Bimbing aku untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu dan beribadah kepada Engkau dengan sebaik-baiknya…”

“… Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al A’raf [7]:56)

Yang Fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: