Kebajikan Hati. By: Mohammad Yasser

Kebajikan Hati.
By: Mohammad Yasser

Seorang teman bercerita ia sangat gelisah dengan kehidupannya saat ini. Walaupun saat ini ia berkecukupan, ia selalu merasa was-was tentang apa yang ia peroleh. Ia takut kalau-kalau apa yang ia peroleh itu adalah sesuatu yang tidak halal yang mendatangkan kemurkaan Allah. Ia bertanya, “Apa yang harus kulakukan?”

Hamba itu berusaha menjawabnya, ia ingat akan sebuah kisah sahabat Rasulullah Saw yang bernama Wabishah bin Ma’bad ra. Ia menuturkan kisah pribadinya bersama Nabi. “Pada suatu kesempatan, aku berkunjung ke rumah Rasulullah. Belum lagi aku mengemukakan pertanyaan yang aku pendam, Nabi mendahuluiku dengan bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau datang ke sini untuk menanyakan tentang kebajikan (al-birru)?’ Aku menjawab, ‘Betul wahai Rasul.’ Kemudian Rasulullah menyampaikan, ‘Mintalah pertimbangan kepada hatimu. Kebajikan itu (al-birru) adalah segala sesuatu yang jiwa dan hati merasa tenteram (bila melakukannya). Adapun keburukan (al-itsmu) adalah segala sesuatu yang terbersit pada nafsumu namun hatimu ragu (untuk melakukannya) meskipun banyak orang mendukungmu untuk melakukannya’ (HR Ahmad)

Dalam kesempatan yang lain Rasulullah Saw pernah menyampaikan, “Al-birru adalah budi pekerti yang baik dan al-itsmu adalah segala sesuatu yang terbersit dibenakmu, dan engkau tidak suka bila hal itu diketahui oleh orang lain.” (HR Muslim)

Hati adalah sebuah sensor kendali dari moral seorang hamba. Hati tidak akan dapat tertipu oleh sebuah keburukan karena pastilah keburukan akan menyebabkannya meronta dan mendatangkan kegelisahan yang dalam. Tidaklah ada sebuah kehidupan yang abu-abu. Semua terasa jelas mana yang merupakan kebajikan dan keburukan.

Allah berfirman di dalam Al Quran, “Katakanlah: ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyak yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Maaidah [5]:100)

Dalam kehidupannya, seorang hamba Allah terkadang bersikap menafikan kebenaran. Ia selalu memakai akalnya tapi tidak dengan hatinya. Ia abaikan segala bisikan-bisikan hati itu sehingga getarannya tidak pernah terasa sampai dapat merubah perilakunya. Terlebih jika ia memiliki kekuasaan yang besar dan harta yang banyak. Dua hal ini adalah modal yang cukup baginya untuk menganggap segala tindakan dan prilakunya adalah benar. Orang-orang disekitarnya seperti istri, anak-anaknya dan orang-orang yang bekerja kepadanya selalu dianggapnya sebagai pendukung yang setia terhadap apapun keputusannya. Ia sadar bahwa mereka tidak akan mungkin membantahnya karena kehidupan mereka selalu bergantung kepadanya.

Allah menjawab orang-orang yang seperti ini dengan firmannya di dalam Al Quran, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya? Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al Jaatsiyah [45]:23)

Rasulullah mengajarkan sebuah doa yang selalu dibaca oleh Nabi dibanyak kesempatan dalam menjalani hari-hari kehidupannya, “Wahai Dzat Yang Maha Berkuasa membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu.” (HR At Tirmidzi)

Wallahu a’lam bissawab.

(M. Fachri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: