Umat Terbaik. By: Mohammad Yasser Fachri

Umat Terbaik
By: Mohammad Yasser Fachri

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan (masa jahiliyah), maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah kamu menjadi orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. “ (QS Ali ‘Imran [3]:103)

Dalam sebuah pertemuan, seorang teman selalu menyebut kata laknatullah setelah menyebut kata Yahudi. Ia menyebut: Yahudi Laknatullah yang berarti Yahudi yang dilaknat Allah. Ia sangat piawai mendeskripsikan segala bentuk kejahatan bangsa Yahudi, dengan emosi yang terpancar di wajahnya. Ia seperti ingin menyatakan bahwa seluruh peristiwa yang menimpa kaum muslimin adalah disebabkan oleh tingkah polah kaum Yahudi.

Hamba itu amat mahfum dengan apa yang ia rasakan. Melihat keadaan bangsa palestina yang tidak berdaya dalam memperjuangkan tanah air mereka sendiri sangatlah menyayat hati dan membuat air mata ini selalu menggenang setiap kali melihat media yang mempertontonkan segala bentuk kejahatan militer Israel dalam bertindak. Tapi ada satu yang hamba itu ingat, Rasulullah Saw tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk menggunakan kata ‘Laknatullah’ yang ditujukan kepada siapapun. Tidak juga kepada kaum kafir Quraish yang selalu menghalangi Nabi dan pengikut-pengikutnya dalam keimanan kepada Allah bahkan menyiksa siapa saja yang mengaku beriman di awal-awal priode Mekkah. Demikian juga ketika Nabi berhijrah ke Madinah, walaupun beberapa kaum munafiq itu adalah berasal dari golongan Yahudi dengan pimpinan mereka Abdullah bin Ubay, Nabi tetap hidup berdampingan dengan mereka secara damai sampai akhirnya mereka merencanakan makar kepada nabi yang berakhir dengan terusirnya kabillah terakhir dari kaum Yahudi Madinah yang sangat kaya yaitu bani Qurayzhah.

Mungkin kita lupa bahwa perpecahan yang timbul dikalangan kaum muslimin saat ini bukanlah disebabkan karena faktor kejahatan bangsaYahudi tetapi lebih kepada karena perpecahan dikalangan umat Islam sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari sebahagian besar dari Kita selalu menisbatkan setiap kepintaran, kedigdayaan dan kemajuan teknologi selalu identik dengan bangsa Yahudi tapi disisi yang lain kita selalu mengolok-olok perangai bangsa arab, lebih-lebih lelaki arab, dengan segala kebodohan, ketidak sopanan terhadap wanita, dan perbuatan cabul lainnya.

Dr. Tariq Ramadhan, seorang cendikiawan islam dalam sebuah pertemuan di Kuala Lumpur, seperti yang dikutip oleh eramuslim.com pernah berkata, “Setiap kali mendapati simbol yang berbau Yahudi maka ada sebagian umat islam merasa ada konspirasi Yahudi di baliknya. Bahkan terhadap sebuah kotak makanan sederhana yang dipenuhi motif bintang segi enam barangkali akan menyebabkan kita merasa catering yang menyiapkan makanan tersebut telah terlibat gerakan Yahudi internasional.”

Tanpa kita sadari, pengakuan akan kedigdayaan Yahudi yang begitu hebat dan tak tertandingi menjadikan sebahagian dari kita memiliki kebencian yang berlebihan. Kebencian yang pada akhirnya melahirkan sikap frustasi dan rendah diri. Kita merasa tidak mungkin bersaing dan duduk sejajar dengan mereka. Dan untuk seterusnya membawa kepada pelampiasan amarah, dendam dan kekerasan yang terus terjadi menjadikan dunia ini tidak lagi aman untuk dihuni.

Dr Jeffry Lang, seorang mualaf dari amerika pernah berkata, “Janganlah melihat keindahan sebuah pulau dari kejauhan laut yang dalam, tapi masuklah kedalamnya agar terlihat segala bentuk rupanya.” Ia ingin menjelaskan bahwa kehebatan bangsa Yahudi itu hanyalah sebuah fatamorgana yang kita sendiri yang ikut menciptakannya dan menjadikannya sebuah mitos. Padahal tidaklah demikian adanya. Setiap bangsa memiliki kelemahan dan kelebihan yang lebih kurang sama.

Dalam beberapa ayat Al Quran dijelaskan bahwa Allah ‘melebihkan’ Bani Israel pada zaman Nabi Musa adalah disebabkan mereka tunduk dan patuh kepada Allah serta bersabar dengan segala kezaliman yang dilakukan Fir’aun terhadap mereka. Begitu banyak Rasul dan Nabi yang telah Allah turunkan untuk Bani Israel yang menyebabkan mereka merasa paling ‘disayang Allah’ dan hal ini terbantahkan di dalam Al Quran.

“…Permusuhan antara mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” (QS Al Hasyr [59]:14)

Ketika hamba itu masih tinggal di benua lain dalam tugas belajarnya. Dalam sebuah ‘study group’ yang terdiri dari beberapa teman dari berbagai latar belakang, kami melakukan sebuah diskusi di apartemen seorang teman yahudi. Ketika waktu sholat ashar tiba, hamba itu meminta izin kepada pemilik apartment untuk mendirikan sholat ashar. Ia mempersilahkan hamba itu untuk sholat dikamarnya dan menyediakan handuk serta karpet Persia terbaiknya sebagai sajadah. Ia sibuk membereskan kamar tidurnya sebelum mempersilahkan hamba itu untuk masuk. Sebuah ruangan yang amat pribadi baginya dan merupakan sebuah penghormatan bagi hamba itu.

Allah berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [3]:110)

Wallahu a’lam Bissawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: