NILAI SEBUAH AKHLAK YANG MULIA. By: Mohammad Yasser Fachri.

Nilai Sebuah Akhlak Mulia
By: Mohammad Yasser Fachri

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan tidak (pula) mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di saat kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu walaupun sebesar zarrah (atom) di bumi atau dilangit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Yunus [10]:61)

Ketika Allah memberi kesempatan bagi hamba itu dan keluarga untuk memperoleh nikmat-Nya berkunjung ke sebuah negeri lain, ada beberapa pelajaran berharga yang didapat sebagai sebuah hikmah kehidupan. sebuah ‘tanda-tanda kekuasan-Nya’ yang terkadang luput dari perhatian dan pemahaman. Sebuah pelajaran dari Yang Maha Hidup akan sebuah kebaikan dan akhlak yang mulia.

Ketika akan mengambil foto anak-anak di sebuah tempat yang bukan objek wisata, orang-orang yang lalu lalang, tiba-tiba berhenti atau menghindar agar tidak mengganggu ‘sesi pemotretan yang mendadak itu’. 3-4 anak muda sembari bercanda melewati, tanpa sadar akan apa yang sedang kami lakukan. Sehingga ketika jepretan itu dilakukan, tampak dilayar camera sebuah foto anak-anak yang tertutupi oleh ulah anak muda tadi. Tersadar apa yang mereka lakukan, anak-anak muda tadi mendatangi kami dan meminta maaf akan apa yang telah mereka lakukan. Dengan raut muka menyesal dan kata-kata yang cukup membuat hati ini terobati dan menghapus kegundahan yang sempat muncul beberapa saat. “We’re so sorry about that!” Kata Mereka.

Di lain tempat, ketika kami mengantri untuk makan di sebuah resto yang kami rasa cukup mewakili selera dan memastikan tidak ada sebuah makanan yang terlarang oleh agama di menu, sang ‘Table setter’ menerima kami dengan senang hati sembari mengatakan, “We’re not serving any halal food here, is that ok for you?” Sebuah pernyataan yang juga sangat menentramkan hati dan membuat kami merasa sangat dihormati sebagai seorang muslim.

Dalam sebuah perjalanan beberapa waktu yang lalu, hamba itu harus transit di sebuah airport di negeri yang bukan negeri muslim. Hamba itu berusaha mencari tempat yang dapat dipakai untuk melaksanakan sholat. Tak disangka ada sebuah ruangan yang bernama “prayer room” di airport tersebut. Sebuah ruangan yang lumayan luas dan terbuka untuk semua agama. Ketika Hamba itu selesai berwudhu, Sholat jama’ qashar sedang didirikan dan dipimpin oleh seorang imam. Setelah sholat, kami saling berbincang. Ternyata sang imam adalah seorang berasal dari Dubai, UAE bersama seorang temannya. Dua orang lainnya berasal dari Bangladesh. Dalam perbicangan itu, salah seorang saudara seiman dari Bangladesh tersebut ingin menghubungi keluarganya di negeri asalnya, tapi ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Dengan lembut, saudara seiman dari Dubai tadi mengatakan, “Please use my handphone!” Ketika saudara seiman dari Bangladesh itu enggan menerimanya, ia kembali berkata, “Allah will pay a good deeds. Don’t worry about it.” Sebuah contoh persaudaraan islam yang luar biasa. Tiada hitung-hitungan untung rugi dalam membina persaudaraan. Tiada curiga mencurigai (Su’udzon) tanpa alasan. Keyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan membalasnya dengan berlipat ganda siapa dari hamba-Nya yang menolong hamba-Nya yang lain.

Seorang ulama besar kita, M. Natsir pernah berkata, “Nilai-nilai islam itu hidup dalam masyarakat modern dan berpendidikan. Nilai-nilai islam itu hidup di barat dan bukan di Negara kita.” Hal inilah yang selalu hamba itu ingat dan selalu terngiang dalam pikirannya. Bandingkan dengan keadaan di Negara kita dengan jumlah penduduk muslim yang begitu besar. Seharusnya nilai-nilai islam itu bersemai dan hidup mekar dalam wangi semerbaknya kemana-mana. Tapi kenyataannya sungguh berbeda. Sebagian besar dari kita sudah tidak lagi mengenal sopan santun. Apalagi mengajarkan nilai-nilai tersebut pada anak-anak kita. Lihatlah prilaku sebahagian besar pengendara motor ataupun mobil dijalanan. Bukankah itu sebuah cermin dari sebuah masyarakat yang sakit? Ketika kita berjalan dan tanpa sengaja menyentuh orang lain, tak ada ucapan maaf yang keluar dari lisan kita. Terkadang, kita dengan seenaknya menghalangi orang lain yang punya hak untuk melintas.

Seorang teman pernah bertanya kepada hamba itu, “Kenapa nilai-nilai islam yang luhur itu belum dapat menjadi bagian dari diri kita? Bukankah seharusnya kita bercermin pada Rasulullah Saw sendiri yang pernah bersabda, ‘Aku diutus untuk memperbaiki akhlak’ (HR Bukhari dan Muslim). Juga dalam sabda Nabi yang lain, ‘Semulia-mulia seseorang diantara kamu adalah yang palik baik akhlaknya.’ (HR At Tirmidzi).” Hamba itu berusaha membuat analogi dengan pernyataan Buya M. Natsir diatas, ‘Islam itu hidup dalam masyarakat modern dan berpendidikan.’ Jadi artinya masyarakat kita belum dapat dikatakan modern dan berpendidikan. Kita masih berkutat pada soal rukun islam dan iman saja tanpa mengerti akan sebuah nilai ketaqwaan yang selalu bermuara pada sebuah akhlak mulia. Allah menyebutnya dalam Al Quran sebagai hamba-hamba-Nya yang ‘muhsinin’ (berakhlak mulia).

Dunia ini indah bukanlah karena harta benda dan seluruh isinya, tapi dunia ini indah karena dipenuhi hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga hubungannya dengan Allah Azza wa Jalla, tapi disisi yang lain selalu berbuat baik yang terlihat dari saling mencintai, menghormati, penuh kejujuran, suka menolong dan tidak merugikan orang lain dimanapun ia berada, menyebarkan kedamaian dan selalu bermanfaat bagi siapa saja.

Hamba itu kembali teringat akan sebuah kisah perjalanan seorang khalifah besar, Umar ibn Khatab ra. ketika berkunjung ke Jurusalem setelah dibebaskan oleh panglima besar Islam, Abu Ubaidah bin Jarrah. Ketika Khalifah Umar ditemani oleh Uskup Agung Yurusalem yang bernama Severinus berkunjung ke gereja Anastasis tempat dimana menurut kepercayaan mereka terjadinya penyaliban, waktu sholat tiba. Uskup Agung Severinus meminta Khalifah Umar untuk sholat dalam gereja tersebut karena itu juga rumah Tuhan. Dengan bijak khalifah Umar menolaknya dan berkata, “Biarlah aku sholat di depan pintunya saja.” Sungguh sebuah sikap toleransi yang luar biasa dari seorang pemimpin dengan kekuasaan 2/3 dunia dalam genggamannya ketika itu.

“…Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (QS Al Baqarah [2]:195)

Yang fakir kepada ampunan
Rabb nya Yang Maha Berkuasa

M. Fachri Nilai Sebuah Akhlak Mulia. By: Mohammad Yasser Fachri
Share
Today at 9:28pm | Edit Note | Delete
Nilai Sebuah Akhlak Mulia

By: Mohammad Yasser Fachri

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan tidak (pula) mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di saat kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu walaupun sebesar zarrah (atom) di bumi atau dilangit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS Yunus [10]:61)

Ketika Allah memberi kesempatan bagi hamba itu dan keluarga untuk memperoleh nikmat-Nya berkunjung ke sebuah negeri lain, ada beberapa pelajaran berharga yang didapat sebagai sebuah hikmah kehidupan. sebuah ‘tanda-tanda kekuasan-Nya’ yang terkadang luput dari perhatian dan pemahaman. Sebuah pelajaran dari Yang Maha Hidup akan sebuah kebaikan dan akhlak yang mulia.

Ketika akan mengambil foto anak-anak di sebuah tempat yang bukan objek wisata, orang-orang yang lalu lalang, tiba-tiba berhenti atau menghindar agar tidak mengganggu ‘sesi pemotretan yang mendadak itu’. 3-4 anak muda sembari bercanda melewati, tanpa sadar akan apa yang sedang kami lakukan. Sehingga ketika jepretan itu dilakukan, tampak dilayar camera sebuah foto anak-anak yang tertutupi oleh ulah anak muda tadi. Tersadar apa yang mereka lakukan, anak-anak muda tadi mendatangi kami dan meminta maaf akan apa yang telah mereka lakukan. Dengan raut muka menyesal dan kata-kata yang cukup membuat hati ini terobati dan menghapus kegundahan yang sempat muncul beberapa saat. “We’re so sorry about that!” Kata Mereka.

Di lain tempat, ketika kami mengantri untuk makan di sebuah resto yang kami rasa cukup mewakili selera dan memastikan tidak ada sebuah makanan yang terlarang oleh agama di menu, sang ‘Table setter’ menerima kami dengan senang hati sembari mengatakan, “We’re not serving any halal food here, is that ok for you?” Sebuah pernyataan yang juga sangat menentramkan hati dan membuat kami merasa sangat dihormati sebagai seorang muslim.

Dalam sebuah perjalanan beberapa waktu yang lalu, hamba itu harus transit di sebuah airport di negeri yang bukan negeri muslim. Hamba itu berusaha mencari tempat yang dapat dipakai untuk melaksanakan sholat. Tak disangka ada sebuah ruangan yang bernama “prayer room” di airport tersebut. Sebuah ruangan yang lumayan luas dan terbuka untuk semua agama. Ketika Hamba itu selesai berwudhu, Sholat jama’ qashar sedang didirikan dan dipimpin oleh seorang imam. Setelah sholat, kami saling berbincang. Ternyata sang imam adalah seorang berasal dari Dubai, UAE bersama seorang temannya. Dua orang lainnya berasal dari Bangladesh. Dalam perbicangan itu, salah seorang saudara seiman dari Bangladesh tersebut ingin menghubungi keluarganya di negeri asalnya, tapi ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Dengan lembut, saudara seiman dari Dubai tadi mengatakan, “Please use my handphone!” Ketika saudara seiman dari Bangladesh itu enggan menerimanya, ia kembali berkata, “Allah will pay a good deeds. Don’t worry about it.” Sebuah contoh persaudaraan islam yang luar biasa. Tiada hitung-hitungan untung rugi dalam membina persaudaraan. Tiada curiga mencurigai (Su’udzon) tanpa alasan. Keyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan membalasnya dengan berlipat ganda siapa dari hamba-Nya yang menolong hamba-Nya yang lain.

Seorang ulama besar kita, M. Natsir pernah berkata, “Nilai-nilai islam itu hidup dalam masyarakat modern dan berpendidikan. Nilai-nilai islam itu hidup di barat dan bukan di Negara kita.” Hal inilah yang selalu hamba itu ingat dan selalu terngiang dalam pikirannya. Bandingkan dengan keadaan di Negara kita dengan jumlah penduduk muslim yang begitu besar. Seharusnya nilai-nilai islam itu bersemai dan hidup mekar dalam wangi semerbaknya kemana-mana. Tapi kenyataannya sungguh berbeda. Sebagian besar dari kita sudah tidak lagi mengenal sopan santun. Apalagi mengajarkan nilai-nilai tersebut pada anak-anak kita. Lihatlah prilaku sebahagian besar pengendara motor ataupun mobil dijalanan. Bukankah itu sebuah cermin dari sebuah masyarakat yang sakit? Ketika kita berjalan dan tanpa sengaja menyentuh orang lain, tak ada ucapan maaf yang keluar dari lisan kita. Terkadang, kita dengan seenaknya menghalangi orang lain yang punya hak untuk melintas.

Seorang teman pernah bertanya kepada hamba itu, “Kenapa nilai-nilai islam yang luhur itu belum dapat menjadi bagian dari diri kita? Bukankah seharusnya kita bercermin pada Rasulullah Saw sendiri yang pernah bersabda, ‘Aku diutus untuk memperbaiki akhlak’ (HR Bukhari dan Muslim). Juga dalam sabda Nabi yang lain, ‘Semulia-mulia seseorang diantara kamu adalah yang palik baik akhlaknya.’ (HR At Tirmidzi).” Hamba itu berusaha membuat analogi dengan pernyataan Buya M. Natsir diatas, ‘Islam itu hidup dalam masyarakat modern dan berpendidikan.’ Jadi artinya masyarakat kita belum dapat dikatakan modern dan berpendidikan. Kita masih berkutat pada soal rukun islam dan iman saja tanpa mengerti akan sebuah nilai ketaqwaan yang selalu bermuara pada sebuah akhlak mulia. Allah menyebutnya dalam Al Quran sebagai hamba-hamba-Nya yang ‘muhsinin’ (berakhlak mulia).

Dunia ini indah bukanlah karena harta benda dan seluruh isinya, tapi dunia ini indah karena dipenuhi hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga hubungannya dengan Allah Azza wa Jalla, tapi disisi yang lain selalu berbuat baik yang terlihat dari saling mencintai, menghormati, penuh kejujuran, suka menolong dan tidak merugikan orang lain dimanapun ia berada, menyebarkan kedamaian dan selalu bermanfaat bagi siapa saja.

Hamba itu kembali teringat akan sebuah kisah perjalanan seorang khalifah besar, Umar ibn Khatab ra. ketika berkunjung ke Jurusalem setelah dibebaskan oleh panglima besar Islam, Abu Ubaidah bin Jarrah. Ketika Khalifah Umar ditemani oleh Uskup Agung Yurusalem yang bernama Severinus berkunjung ke gereja Anastasis tempat dimana menurut kepercayaan mereka terjadinya penyaliban, waktu sholat tiba. Uskup Agung Severinus meminta Khalifah Umar untuk sholat dalam gereja tersebut karena itu juga rumah Tuhan. Dengan bijak khalifah Umar menolaknya dan berkata, “Biarlah aku sholat di depan pintunya saja.” Sungguh sebuah sikap toleransi yang luar biasa dari seorang pemimpin dengan kekuasaan 2/3 dunia dalam genggamannya ketika itu.

“…Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (QS Al Baqarah [2]:195)

Yang fakir kepada ampunan
Rabb nya Yang Maha Berkuasa

M. Fachri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: