Sebuah Undangan by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

Sebuah Undangan

Seorang kerabat mengundang hamba itu ke sebuah resto di sebuah Mall. Sembari makan mereka bercerita akan segala hal yang sedang dihadapi ataupun luput dari hadapan. Suatu cerita yang biasa dalam kehidupan. Hamba itu memperhatikan, kerabatnya lengkap memesan makanan. Dari hidangan pembuka, menu utama sampai ke hidangan penutup. Semua terasa lengkap. Tapi ada satu keanehan yang selalu terlihat, makanan-makanan itu tidak sampai habis. Selalu saja ada yang tersisa. Sepertinya hal ini disengaja oleh kerabatnya itu. Hamba itu kembali menoleh ke sekelilingnya. Kerabatnya yang lain pun melakukan hal yang sama. Dan orang lain dalam meja yang berbeda juga tampak melakukan hal yang sama. Seolah hal itu sudah menjadi budaya bagi kita. Rasanya sungkan menghabiskan makanan di sebuah resto yang ternama agar tidak dibilang ‘sedang kelaparan’ sepertinya sedang menjadi ‘habit’. Hamba itu hanya bisa diam dengan seribu satu pertanyaan yang ada dibenaknya sembari berusaha menekan-nekan jarinya pada makanan yang masih tersisa di piringnya untuk kemudian melahapnya agar tiada kelihatan sisanya lagi.

Kenapa hal ini harus terjadi? Tidakkah kita memiliki kepekaan bahwa begitu banyak orang-orang yang sangat mengharapkan makan dengan cukup walaupun itu hanya setumpuk nasi dengan kerupuk? tapi bagi sebagian kita yang lain, kita melakukan sesuatu yang justru amat dibenci oleh Allah Azza wa Jalla.

“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makanlah dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS Al A’raaf [7]:31)

Pikiran hamba itu kembali ke sebuah peristiwa yang beberapa hari yang lalu baru saja terlewati. Dalam kegiatan qurban itu, seorang ibu yang datang dari jauh sudah menunggu sejak pagi hanya untuk sekantong daging dengan berat satu kilogram yang akan ia bagikan untuk ke empat anaknya. Ia rela menunggu hingga pukul empat sore. Ketika daging-daging qurban itu mulai dibagikan ia mengantri dengan sabar. Dan ketika ia memperolehnya. Ia angkat kantong yang berisi daging itu ke atas ubun-ubunnya sembari mengucap Alhamdulillah, ia berkata, “Setelah menunggu setahun, saya dan anak saya dapat makan daging lagi.” Sebuah pernyataan mengenaskan keluar dari lisannya yang membuat bulu kuduk ini merinding karenanya dan menyayat hati begitu dalam.

Seorang sahabat Nabi yang bernama Abdurrahman bin Auf. Seorang saudagar kaya yang sangat disegani dimasa Rasulullah. Satu diantara sepuluh sahabat yang Rasulullah sendiri menjamin akan bersamanya kelak di surga yang tertinggi. Seorang sahabat yang selalu hidup dalam kesederhanaan (zuhud). Ribuan ekor unta dimilikinya. Demikian juga puluhan ribu domba ia ternakkan dan asset-asset tanah dan bangunannya menyebar di seantero kota Madinah. Suatu kali, dalam sebuah perjalanan dagang, di dalam tenda teduhnya, para pembantunya menyiapkan makanan yang paling baik dan paling lezat untuknya. Ketika salah seorang puteranya mengajaknya untuk makan, ia terdiam dan tampak raut muka yang menunjukkan kesedihan yang mendalam. Ia berkata, “Sungguh yang amat kutakutkan dalam hidupku adalah Allah Azza wa Jalla menyegerakan segala kesenangan di dunia ini dan ketika di akhirat nanti aku tidak memperoleh apapun lagi.” (Tafsir Ibn Katsir)

Sungguh sebuah kehidupan yang kontras dengan kita saat ini. Dimana ketika kita dihadapkan pada pilihan yang memberikan nikmat yang banyak kepada kita, pastilah kita sudah memilihnya terlebih dahulu.

Rasulullah Saw menyampaikan dihadapan sahabat-sahabatnya, “Apabila suapan makanan salah seorang diantara kalian itu jatuh, maka ambillah dan bersihkan kotorannya, serta makanlah. Jangan membiarkan makanan itu dimakan oleh syaitan. Habiskanlah makanan yang tersisa di tempat makan kalian (piring). Sesungguhnya kalian tidak tahu, bagian manakah dari makanan itu yang membawa berkah.” (HR Muslim)

Yang fakir terhadap
ampunan Rabb-nya
Yang Maha Berkuasa

(M. Fachri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: