Kekikiran Diri by Mohammad Yasser Fchri. Re-posted by Iqraa A.

Kekikiran Diri

“Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kelapangan dia menjadi kikir.” (QS Al Ma’arij [70]:19-21)

Sebuah nikmat yang diperoleh seorang hamba Allah sering menjadikan ia lupa daratan. Terkadang ia merasa bahwa nikmat yang diperolehnya itu adalah hasil jerih payahnya sendiri dan hasil dari buah pikiran yang disebabkan oleh ilmu yang telah ia kuasai. Ia merasa berjalan diatas awan tanpa harus mencecah bumi. Semua orang ia pandang lebih rendah dari dirinya. Ia selalu menonjolkan dirinya dan bicara banyak serta enggan untuk mendengar pendapat orang lain. Sungguh sebuah kenaifan yang nyata.

Demikian pula jika seorang hamba memperoleh kesusahan dalam hidupnya. Ia merintih dan merasa sebagai orang yang tiada guna. Rintihannya bagai sebuah senandung panjang yang tak berujung. Ia mencari siapa saja yang bisa mendengar rintihannya dan keluh kesahnya itu seolah-olah ingin berkata dan berteriak kepada semua orang betapa tidak adilnya hidup yang ia jalani!

Ketika hamba itu mengunjungi gurunya yang selama ini banyak membimbingnya, sang guru bertanya kepada hamba itu tentang apa yang ia rasakan ketika Allah memberinya banyak kenikmatan dan kelapangan.

Hamba itu menjawab, “Hati yang tumpul dan tidak dapat mensyukuri.”

Hati yang tumpul adalah hati yang jauh dari hidayah Allah. Hati yang dipenuhi oleh segala penyakit seperti ujub, riya’ dan takabbur. Hati yang tidak lagi memiliki ketundukan seorang hamba kepada Rabb-nya dan jauh dari mencintai dan dicintai oleh Rabb-nya. Hati yang tidak memiliki ‘empathy’ atas penderitaan manusia lain disekelilingnya. Dalam sebuah hadish Qudsi, Allah Azza wa Jalla berkata,

“Kebesaran dan Sombong itu adalah pakaian Ku. Siapa diantara hamba Ku yang berusaha memakainya di dunia, maka kelak ia tidak akan melihat wajah Ku di akhirat dan tempatnya adalah neraka” (HR Bukhari)

Dalam hal lain, kekikiran adalah sebuah bentuk kengganan untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Kikir dalam arti yang sebenarnya bukanlah hanya kengganan untuk memberi harta (sedeqah) ketika dalam keadaan lapang. Tapi kikir adalah kengganan untuk memohon kepada Rabb-nya karena merasa sudah cukup. Keengganan untuk berzikir sehingga lisannya kering dari menyebut dan menganggungkan Allah yang telah memberinya begitu banyak nikmat. Juga keengganan dalam hal melaksanakan ibadah-ibadah sunnah selain yang fardhu. Bukankah kengganan seorang hamba untuk bangun jauh ditengah malam untuk mendirikan sholat tahajud dan bermunajat kepada Rabb-nya adalah juga sebuah bentuk kekikiran? Baginya tidur lebih berharga daripada mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

Di akhir pertemuan mereka, sang guru mengingatkan kembali akan sebuah doa Rasulullah saw ketika kekuasaan dan kenikmatan banyak menyertai hari-hari Nabi di Madinah. Sebuah doa yang menyiratkan sebuah ketulusan dan sekaligus ketakutan akan kemapanan yang menyebabkan kekikiran diri,

“Ya Allah, jadikanlah aku kecil di dalam padanganku, tetapi mulia di dalam pandangan hamba-hamba-Mu. Ya Rabb, janganlah Engkau pernah biarkan aku menguasai diriku walau sekejap matapun. Rahmat-Mu yang selalu kuharap menyertai diriku. Baguskanlah seluruh keadaan bagiku. Hanya Engkau tempatku mengabdikan diri” (HR Bukhari, Ahmad & At Tirmidzi)

Wallahu A’lam Bissawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: