Undangan Yang Agung by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

Undangan Yang Agung

Seorang sahabat Nabi Saw bertanya, “Ya Rasulullah, bekal apa yang harus kubawa dalam berhaji?” Dengan berpegang pada QS Al Baqarah [2]:197, Nabi menjawab, “Sebaik-baik bekal adalah Taqwa”. (Mutafaqun Alaihi)

Ketika salah seorang kerabatnya akan berangkat menunaikan ibadah haji, hamba itu mengunjunginya dan ingin mengucapkan selamat jalan kepadanya. Mereka terlibat pembicaraan yang masih seputar masalah dunia dan usaha. Kerabatnya itu berkata, “Tunggulah aku pulang dari haji, kita selesaikan nanti semuanya.” Hamba itu hanya diam dan memandang wajah kerabatnya itu dengan seribu satu pertanyaan yang muncul dibenaknya.

Perjalanan haji adalah sebuah perjalanan yang hanya dapat dilakukan oleh yang “mampu”. Bukan hanya dari sisi materi tapi juga secara ruhani. Begitu banyak ragam niat seseorang untuk berhaji. Ada yang untuk mengejar status dan ada juga yang sekedar “mencuci dosa” yang telah lalu serta ada juga yang ingin memuaskan hawa nafsunya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu dan pantas untuk menyandang sebuah gelar “Haji”. Dan yang lebih mengharukan, tanpa disadari atau tidak, bagi sebahagian orang, ibadah haji tak lebih dari sebuah perjalanan wisata dengan membayangkan tempat-tempat indah nan syahdu untuk dikunjungi dan tempat menghabiskan uang untuk berbelanja.

Perjalanan haji adalah sebuah perjalanan yang sarat dengan symbol dan makna. Symbol-simbol yang terukir dalam pakaian ihram yang hanya dua lembar sebagai pertanda bahwa ketika kita menghadap Allah Azza wa Jalla, tak ada apapun yang kita bawa kecuali kain kafan yang akan melingkari tubuh kita. Demikian juga ritual melontar jumrah melambangkan perlawanan kita terhadap syaitan yang terus berusaha menggoda. Pertarungan antara keburukan dan kebaikan itu akan selalu ada selama ruh masih bersemayam dalam tubuh kita.

Puncak dari ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah. Tidak ada undangan yang lebih agung ketika Allah memulikan hamba-hamba-Nya di Arafah. Dan hal ini terangkai dalam sebuah pesan Rasulullah Saw, “Haji itu adalah Arafah dan tiada yang membatasi seorang hamba dengan Rabb-nya di hari itu, mereka berada dalam pelukan-Nya” (HR Bukhari).

Arafah adalah replika dari sebuah padang mahsyar kelak. Tempat dimana semua manusia berkumpul untuk menunggu keputusan Allah Azza wa Jalla. Menimbang kebaikan dan keburukan demi dengan ‘Mizan’ (timbangan) yang adil. Di Arafah semua hamba-Nya yang sedang berwukuf sama kedudukannya, sama-sama merasakan kebesaran-Nya. Tempat jutaan hamba-hamba-Nya melantunkan pujian dan bermunajat dengan linangan air mata yang membasahi setiap wajah-wajah mereka demi memperoleh ampunan dan ridha-Nya.

Dalam menjalankan ibadah wukuf, Rasulullah saw sendiri memilih untuk mendaki Jabbal Rahmah dan duduk bersimpuh untuk mendekatkan diri-Nya kepada Rabb Yang Maha Agung tanpa pelindung dan naungan sedikitpun. Dalam terik matahari, Nabi merasa tidak ada jarak antara dirinya dengan Rabb-nya. Terus menerus bermunajat dalam keheningan dan kesyahduan yang tiada tara. Merasakan pelukan-Nya yang penuh rahmat yang selalu menaungi. Sementara ummatnya saat ini memilih untuk berwukuf dalam tenda-tenda yang ber AC, agar tidak kepanasan. Sebuah tenda yang dilengkapi dengan sajian makanan dan minuman kapan saja dibutuhkan.

Ilustrasi perjalanan haji bagaikan perjalanan seorang hamba menuju kepada kematian untuk bertemu dengan Allah Azza wa Jalla. Sungguh bagi sebahagian mereka yang shaleh, perjalanan ini harus dipersiapkan dengan seksama. Semua hutang akan dilunasinya sebelum keberangkatannya. Semua janji akan dipenuhinya agar tak meninggalkan kewajiban baginya kelak. Demikian juga keluarga yang ia tinggalkan, Ia meninggalkan mereka dalam keadaan lapang dan cukup. Sepucuk wasiat akan ia tinggalkan bagi mereka agar seluruh harta yang pernah ia peroleh sebagai amanah Allah, tidak akan menjadi sumber konflik dan pertengkaran bagi siapapun yang menjadi ahli warisnya. Tak pantas rasanya ia menebar janji bahwa sepulang dari ibadah haji kelak ia akan melakukan ‘ini’ dan ‘itu’. Sebuah janji yang belum tentu ia dapat laksanakan lagi. Ia seharusnya sadar, ia telah di panggil oleh sang Maha Pencipta untuk memenuhi sebuah undangan yang agung. Tak pantas rasanya untuk kembali.

Dalam perjalanan haji beberapa tahun yang lalu, dalam suasana wukuf yang masih berjalan, seseorang telah ditandu oleh beberapa petugas kesehatan. Beberapa teman-teman dan kerabat mengiringinya. Wajahnya dan sekujur tubuhnya tertutup kain ihramnya dalam tandu yang amat sederhana Ia telah berpulang. Kembali kepada Rabb-Nya Yang Maha Berkuasa dalam pelukan-Nya. Sungguh sebuah kematian yang agung. Kematian yang amat dirindukan dan pantas untuk membuat siapa saja iri melihatnya. Satu yang amat mengesankan bagi hamba itu, teman-teman dan kerabat yang mengiringinya saat itu, semua tersenyum dan penuh kebahagiaan. Mereka sungguh sadar, Allah telah menjanjiikan surga bagi siapapun yang berpulang di dalam pelukan-Nya, dalam sebuah undangan yang agung.

Pantaskah kita merasa akan kembali dari sebuah perjalanan haji?

“Wahai jiwa yang penuh kedamaian. Kembalilah kepada Rabb mu dengan hati yang lapang dan diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS Al Fajr [89]:27-30)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: