Sebuah Hikmah Kehidupan.(Kiriman dari seorang anggota eDakwah: Endang Arum Puspita). Re-posted by Iqraa A.

Sebuah Hikmah Kehidupan
(Kiriman dari seorang anggota eDakwah: Endang Arum Puspitasari)

Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Az Zumar [39]:53)

Dari beberapa kesempatan naik taksi, secara garis besar saya mengamati dan mendapati ada 2 tipe sopir taksi. Tipe pertama adalah tipe sopir taksi sejati, artinya, mereka memang benar-benar sopir, entah yang sejak awal memang sopir taksi, atau yang alih profesi dari sopir pribadi atau angkutan umum lainnya. Tipe kedua adalah sopir taksi jadi-jadian🙂 atau mendadak sopir alias menjadi sopir karena terpaksa padahal keahlian mereka bukan di situ.

Ada ciri khas yang membedakan kedua tipe tersebut. Tipe pertama biasanya tidak banyak bicara. Hanya sekadarnya sebagai sopan santun dan sesekali bertanya arah atau sesekali menjawab bila ditanya. Tipe kedua lebih terbuka dan banyak cerita terutama kepada penumpang tunggal seperti saya. Mereka biasanya menjadikan profesi sopir taksi sebagai batu loncatan, karena dengan menjadi sopir, mereka bisa bertemu banyak orang dan untuk waktu tempuh yang cukup panjang dan lebih privat, mereka punya waktu lebih banyak untuk “memperkenalkan diri”, beda dengan sopir angkot atau bis…

Dari salah seorang di antara mereka, saya menjadi tahu ternyata di perusahaan taksi yang kerap saya naiki itu, banyak sopir jadi-jadian. Ada yang bekas pemain di bisnis sekuritas, koki di AS, pilot, dan sebagainya. Yang ingin saya sampaikan berikut adalah kisah mantan manajer hotel di Jakarta. Semoga bisa menjadi pelajaran buat kita semua.

Dalam perjalanan pulang sehabis mengantar anak kedua kembali ke boarding school-nya tiap awal pekan, tiba-tiba pak sopir bertanya kapan saya ke Tanah Suci. Mungkin karena melihat cara berpakaian saya. Ia lalu meminta maaf karena tiba-tiba teringat pada mantan istrinya. Dulu, saat masih menjadi manajer hotel, ia memiliki seorang istri yang cantik, berjilbab, baik hati dan mempunyai usaha sendiri. Tapi, ia akui sendiri, ia tak bersyukur dengan semua itu. Sudah dikaruniai beberapa orang anak, sang manajer selalu mengkhianati istrinya. Di luaran ia selalu berganti-ganti pacar. Bahkan pernah kepergok istrinya saat ia tengah bersama perempuan entah yang mana lagi di restoran sebuah hotel. Dikisahkannya, istrinya tidak pernah marah-marah walaupun sakit hati bukan main. Dan ia terus asyik dengan hobinya itu. Sampai suatu saat sang istri tidak tahan lagi dan menggugat cerai, dengan enteng dikabulkannya. Ia keluar dari rumahnya hanya membawa sebuah mobil. Pikirnya, ia toh masih bisa tinggal di hotel dan punya penghasilan yang besar.

Dan tak berapa lama dari perceraian itu terjadilah suatu peristiwa yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat ia sedang melaju kencang di jalan tol Jagorawi bersama seorang perempuan yang masih berusia 16 tahun, mereka mengalami kecelakaan hebat. Mobilnya hancur tak berbentuk. Menurut orang-orang yang melihat, mestinya tak ada yang selamat dalam kecelakaan itu, tapi Allah masih memberinya kesempatan. Sang manajer hanya mengalami luka-luka dan patah kaki. Berbulan-bulan tak bisa berjalan. Dan bagai pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga, ia pun dipecat dari pekerjaannya. Saat kembali ke rumah lamanya hendak mengambil surat-surat penting untuk mencari pekerjaan baru, mantan istrinya mengatakan surat-surat itu sudah hilang.

Apa yang bisa ia lakukan sekarang? Untunglah ia kembali mengingat penciptanya. Ia bersyukur masih diberi kesempatan hidup dan bertobat. Niat awalnya, ia hanya ingin jadi sopir taksi selama 3 bulan saja sambil mencari pekerjaan lain. Ternyata, tidak mudah mencari pekerjaan lain itu dan tidak terasa sudah 3 tahun ia jadi sopir taksi dengan penghasilan pas-pasan.

Saat Hari Batik tanggal 2 Oktober yang lalu, ia melewati Bundaran HI, dan tahukah? Ia melihat mantan istrinya yang sudah menjadi istri seorang pejabat Pemda DKI sedang berada di situ! Sakitkah hatinya? Ia hanya berkomentar sambil bercanda, lebih cantik dulu sewaktu masih jadi istrinya, karena sekarang mantannya sudah lebih gemuk. Yaah…lebih baik gemuk bahagia daripada kurus makan hati🙂

Saat ini ia sudah menikah lagi dengan seorang gadis cantik dari pelosok Sukabumi, dan dalam usia yang tidak muda lagi ia juga punya tanggungan anak yang masih kecil. Istri barunya membuka warung kecil-kecilan di rumah. Bagaimanapun, ia mencoba bersyukur. Saya sampai terpana mendengar kisah tragisnya itu dan hanya berkomentar, “Allah memang Maha Adil. Masing-masing mendapat balasan sesuai apa yang dilakukannya, bahkan saat masih di dunia. Mantan istri Bapak sudah bahagia sekarang, sebagai balasan kesabarannya.”

Dalam sebuah hadish qudsi, Allah berkata, “Sesungguhnya ketetapan Ku bergantung pada sangkaan hamba Ku terhadap Ku, dan Aku senantiasa bersamanya selama ia mengingat-Ku.” (HR Bukhari & Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: