Hidup Bagi Seorang Hamba Allah by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

Hidup Bagi Seorang Hamba Allah

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berjihad pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam taurat, injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang tunduk beribadah, yang selalu memuji (Allah), yang mengembara, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu.” (QS At Taubah [9]:111-112)

Suatu waktu beberapa tahun yang lalu, hamba itu mendapat sebuah pertanyaan dari seorang guru besar di tempatnya menuntut ilmu di belahan benua lain. Seorang guru besar dengan berbagai gelar yang disandangnya dalam bidang ‘Earthquake Engineering’. Satu dari beberapa ilmuwan yang disegani di negara bagian California. Ia amat sangat mahfum pergerakan lempeng bumi ini dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Saat itu keduanya berada di kantor sang guru besar dalam suasana yang sangat kondusif untuk sebuah dialog keagamaan. Sang guru yang tahu bahwa muridnya adalah seorang muslim bertanya, “Apa yang anda rasakan hidup sebagai seorang muslim?” Hamba itu tidak langsung menjawab. Ia menarik nafas dalam dan melepaskannya dalam bahasa tubuh yang mencerminkan sebuah kegelisahan. Hamba itu sadar ia berhadapan dengan seorang yang belum tentu mengerti akan konsep agama Allah yang sebenarnya dan hidup dalam lingkungan yang didasarkan pada rasionalitas dan pragmatisme di sebuah negara kampiun demokrasi dunia. Paham akan keadaan muridnya, sang guru besar melanjutkan, “Anda tidak harus menjawabnya sekarang!” Hamba itu tersenyum dan berkata, “Bagi seorang muslim, hidup ini adalah sebuah ibadah kepada Allah.” Dalam bahasa ibu sang guru besar, hamba itu merangkainya dalam kalimat “Fully submission to the Almighty God”. “Seorang muslim yakin bahwa ia akan melewati 2 phase kehidupan. Saat di dunia yang sementara dan kemudian untuk hidup di akhirat yang kekal. Kehidupan yang kekal itu akan ditentukan oleh segala apa yang ia perbuat di dunia ini. Allah akan terus mengujinya di dunia ini dengan segala kesenangan dan kesusahan. Ketika ia diuji dengan kesusahan ia akan bersabar, dan ketika ia diuji dengan kesenangan ia akan bersyukur.” Sang guru besar tersenyum dan kemudian berkata. “Kenapa Tuhan harus mengujinya? Bukankah Tuhan Maha Tahu terhadap hamba-Nya? Tuhan pasti sudah tahu apakah anda atau saya berhak atas surga atau neraka, bukankah demikian?” Hamba itu tersenyum. Ia sadar dalam situasi ini, bukanlah hal yang baik untuk berdebat dan memaksakan sebuah keyakinan.

Hamba itu kembali berkata, “Memang, Allah Maha Tahu akan keadaan hamba-hamba-Nya tapi semua itu sebenarnya lebih kepada ujian kasih sayang untuk menguji kadar cinta hamba-hamba-Nya kepada-Nya. Walau Allah Maha Tahu akhir perjalanan kehidupan dari hamba-hamba-Nya seperti apa, tapi manusia tidak mengetahuinya. Ujian-ujian hidup itu sebenarnya selalu bermuara pada menguatnya sebuah perasaan cinta seorang hamba kepada Allah, Sang Maha Hidup. Dari cinta yang setengah menjadi penuh, dari cinta yang penuh menjadi sebuah kerinduan akan pertemuan dengan-Nya yang tak tergantikan oleh dunia ini seberapa mahal pun harganya. Sang guru besar terlihat menikmati jawaban sang murid dengan wajah yang antusias.

Hamba itu melanjutkan, “Bolehkah aku ceritakan sebuah kisah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Bilal bin Rabah?” “Tentu saja!” Jawab sang guru besar. Hamba itu bercerita tentang Bilal ra yang terlahir sebagai seorang budak yang harus mendapat ujian yang luar biasa dari Allah. Mendapat siksaan dan perlakuan yang amat sangat diluar batas kemanusiaan dari tuannya yang bernama Umayyah bin Khalaf, hanya karena ia beriman kepada Allah. Sampai pada suatu hari ia mendapat puncak siksaan berupa dijemur dipadang pasir yang panas dengan tangan dan kaki terikat dan himpitan batu yang ada di atas perutnya. Tak ada kata lain yang keluar dari mulutnya kecuali ucapan ‘Ahad….Ahad…’ yang berarti Yang Maha Esa. Zaid ra dan beberapa sahabat yang lain mengadukan hal ini kepada Rasulullah. Dan Nabi meminta kepada para sahabatnya yang mampu untuk membebaskan Bilal. Dan tawaran itu diterima oleh Abu Bakr ra yang menyanggupi dan menebus Bilal dengan harga yang luar biasa tinggi untuk ukuran pada zaman itu. Setelah dibebaskan, Bilal ra sudah tidak sadarkan diri. Dengan matanya yang terpejam dan nafas yang tinggal satu persatu ia dibawa kehadapan Nabi. Para sahabat yang hadir meneteskan air mata tak tahan melihat keadaannya. Mereka berusaha membangunkannya dengan memanggil namanya, ‘Bilal…bangun…..Bilal…bangunlah…’ Bilal ra masih diam. Rasulullah saw mendekatinya dan berkata, ‘Bilal, bangunlah…Allah telah menyelamatkanmu.’ Bilal membuka matanya dan mencium tangan Nabi seraya berkata, “Ya Rasulullah, kenapa aku harus ditebus?” Salah seorang sahabat berkata, “Bilal, tidakkah engkau berterima kasih kepada Abu Bakr yang telah menebusmu?” Bilal berkata, “Dengan tidak mengurangi rasa hormatku kepada Abu Bakr yang telah membebaskanku, siksaan yang kuterima dari tuanku tidak berarti apapun bagiku. Aku merasa begitu dekat dengan Rabb-ku dan jarak pertemuanku dengan-Nya begitu telah dekat. Tapi rupanya Allah belum mengizinkanku untuk bertemu dengan-Nya.

Sampai disitu cerita tentang Bilal ra. berakhir, sang guru besar lama terdiam dan akhirnya berkata, “Cinta kepada Tuhan adalah sebuah kekuatan yang amat sangat dahsyat dalam kehidupan manusia. Tak ada yang dapat mengerti dan memahaminya.” Ia kemudian melanjutkan, “Kenapa sebagian besar orang muslim yang saya temui hanya tertarik dan sangat antusias untuk berdebat masalah kebenaran Al Quran? Tapi mereka tidak pernah bisa menjelaskan dengan baik apa yang mereka rasakan hidup sebagai seorang muslim? Hari ini saya telah mendapat sebuah penjelasan yang sangat menggugah pandangan saya.”

Beberapa hari kemudian….

Ketika sesi kuliah itu baru saja berakhir, sang guru besar meminta hamba itu untuk mengikutinya ke kantor tempat mereka berdiskusi sebelumnya. Kantor itu dipenuhi dengan beratus-ratus buku dan jurnal-jurnal ilmu pengetahuan yang jumlahnya ribuan. Sekretaris pribadinya tersenyum ramah ketika mereka melewatinya. Bagi hamba itu, ini sebuah kesempatan yang tak terduga sebelumnya. “Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu” Sang guru besar menjelaskan. Ia mengambil sebuah Al Quran terjemahan yang ia beli beberapa hari yang lalu. Sebuah terjemahan Al Quran karya Dr Abdullah Yusuf Ali, seorang cendikiawan Islam asal India yang menetap di Amerika. Tanpa ragu, ia menunjukkan dua buah ayat di dalam Al Quran, QS At Taubah [9] ayat 111-112 diatas, yang telah ia tandai seraya berkata, “Dua ayat ini menjelaskan dengan gamblang arti sebuah hubungan cinta antara seorang hamba dengan Tuhan nya. Dan hal ini juga terdapat dalam Injil dan Taurat. Sungguh mengagumkan!” Ia melanjutkan, “’Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.’ Aku amat menyukai ayat ini dan sungguh amat bermakna bagiku…” Hamba itu tersenyum mendengarnya.

“Abu Bakr adalah Tuan kita dan telah memerdekakan Tuan kita Bilal.” (Umar Ibn Khatab ra)

Yang fakir kepada ampunan
Rabb nya yang Maha Berkuasa

M. Fachri

(Referensi: Kisah Bilal ra terdapat dalam Tafsir Ibnu Katsir)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: