Sang Guru by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

Sang Guru.

Untuk seorang guru yang selalu menjadi inspirasi…

Inilah saat yang dinantikan oleh hamba itu. Dengan izin Allah, ia kembali bertemu dengan gurunya yang amat sangat ia hormati. Hal ini terjadi ketika hamba itu mudik ke kampung halamannya dilebaran yang lalu. Gurunya memberi khutbah Jumat di masjid kecil di sebuah pusaran kekuasaan kota itu. Dan hamba itu sangat antusias dalam mendengar setiap kata yang meluncur keluar dalam Khutbah Jumat sang guru. Demikian juga ketika sholat telah ditunaikan, hamba itu harus kembali menunggu karena antusiasnya jamaah yang ingin bersalaman dan bertegur sapa dengannya.

Sang guru adalah seorang yang sangat sederhana. Jauh dari kesan seseorang dengan jubah putih dan janggut lebat serta celana menggantung. Seorang ulama yang santun dan selalu terjaga dalam setiap untaian kalimat yang keluar dari lisannya. Seorang guru besar ahli tafsir yang bergelar Doktor tapi tak ingin dipanggil ustadz dan tak ingin menyertakan segala gelarnya di depan ataupun dibelakang namanya. Beberapa buku sudah ditulisnya, berpuluh artikel telah ditulisnya dan beratus ceramah telah disampaikannya. Ketika berbicara di hadapan beberapa orang, tak pernah ia hanya tertuju pada seseorang melainkan matanya selalu berpindah dan menyapa setiap orang disekelilingnya. Ia selalu ingin menghormati dan membahagiakan lawan bicaranya. Rasulullah saw adalah teladan hidupnya dan ini selalu menjadi bahan diskusi yang tak habis-habisnya.

Pertemuan itu mereka lanjutkan di sebuah rumah makan pandang di kota itu. Hamba itu menyampaikan kepada gurunya bahwa ia akan menerbitkan sebuah buku yang selama ini telah dipersiapkannya. Gurunya tersenyum dan bertanya akan isinya. “Semua itu tentang hidup yang bercermin pada Rasulullah.” Jawab hamba itu. Lama gurunya terdiam dan dengan mata yang berkaca-kaca dan hela nafas serta suara yang bergetar ia bertanya, “Adakah isinya mencerminkan kerinduan pada Rasulullah?” Tak ada kata lain yang keluar dari lisan sang guru selain ekspresi wajah yang mencerminkan kerinduan yang amat dalam akan sosok seorang manusia mulia Rasulullah saw. Ada kesenduan dalam wajahnya dan sorotan mata yang kosong seolah merintih dalam penantian daftar tunggu yang panjang.

Gurunya memberi sebuah pesan yang sangat dalam, “Jadilah sebuah sekrup kecil dalam pusaran kehidupan ini.” Sang guru menjelaskan akan sebuah doa kecilnya di putaran tawaf pada Ka’bah: “Ya Allah jadikanlah aku sebuah sekrup kecil dalam pusaran kehidupan ini.” Dalam bahasa teknis putaran sekrup kecil yang searah dengan jarum jam itu akan menguatkan, karena sekrup akan semakin menghujam kedalam. Sang guru juga bercerita bahwa sekrup kecil selalu berguna untuk menguatkan setiap peralatan, kendaraan bahkan bangunan. Bentuknya kecil tapi manfaatnya tidak tergantikan untuk membuat sebuah alat menjadi kokoh kedudukannya.

Hamba itu diam mendengarkan. Sang guru memberi perumpamaan sebuah sekrup kecil untuk hamba itu dalam kegiatan dakwah yang saat ini sedang ia lakoni. Pesan dakwah harus selalu menguatkan dan bukan menceraiberaikan atau membuat perpecahan di kalangan ummat.

Sang guru menyampaikan, Pada masa Rasulullah saw, ketika Abdullah bin Umar dan beberapa sahabat yang lain akan berdakwah ke daerah Yaman, Nabi bersabda, “Permudahlah dan jangan kalian mempersulitnya, berilah khabar gembira dan jangan kalian menakut-nakuti.” (HR Bukhari & Muslim)

“Tidaklah seorang pendakwah itu menginginkan dunia ini. Dakwah adalah sebuah profesi yang didasari oleh kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah saw dan kerinduan akan pertemuan dengannya.” Kata sang guru. Hamba itu bertanya, “Apa yang dapat menjadi pegangannya?” Sang guru menjawab dengan sebuah sabda Rasulullah saw, “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR Muslim). Dan melanjutkan, “Selama engkau masih merasakannya, hal itu pertanda baik bagimu dan jika hal itu tidak ada lagi, maka dunia ini telah menipu mu.” Hamba itu mahfum, tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang dapat menggantikan guratan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang begitu menghujam ke dalam hati seorang hamba. Hidup baginya adalah penantian yang panjang sebelum pertemuan yang indah itu menjadi kenyataan. Bait-bait dakwah disampaikan bagai sebuah puisi dan prosa yang mencerminkan kerinduan dan kegelisahan itu.

Hamba itu bersyukur, memasuki usianya yang ke empat puluh, Allah ‘Azza wa Jalla memberi kesempatan kepadanya untuk menulis sebuah buku yang mengekspresikan rasa cinta itu. Sungguh sebuah anugerah yang luar biasa baginya yang tak habis untuk disyukuri. Cinta yang membawa pada kerinduan yang amat dalam dan kegelisahan yang selalu menyertai akan sebuah pertemuan yang agung kelak di hari akhir.

“Katakanlah: Jikalau bapak-bapak, anak-anak, saudara- saudara, pasangan-pasangan hidupmu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (Q.S At-Taubah [9]: 24)

Pada awalnya buku itu berjudul, “Bercermin Hidup pada Rasulullah”. Tapi atas saran penerbit, judul itu berubah menjadi “Akhlak Suci Sang Nabi” Mudah-mudah membawa keberkahan. Amin ya Rabb…

Wallahu ‘alam Bissawab

(M. Fachri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: