Perhiasan Dunia by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

Perhiasan Dunia.

menjawab pertanyaan seorang teman dari Papua…

“Hai Nabi, katakanlah kepada pasangan-pasanganmu: “Jika kamu menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepada kamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan perceraian yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantara kamu pahala yang besar.” (QS Al Ahzab [33]:28-29)

Ketika Perang Ahzab (Khandak) telah usai, Rasulullah saw memperoleh harta rampasan perang yang sangat banyak. Perang ini adalah sebuah perang melawan dua musuh sekaligus dimana kaum kafir Quraish datang untuk menyerang kota Madinah dan bersekutu dengan kaum yahudi bani Quraizhah yang terkenal sangat kaya dan berpengaruh. Akhir dari perang ini adalah Allah SWT menurunkan angin yang sangat dingin dan “tentara-tentara” yang tidak terlihat hingga yang menyebabkan pasukan kafir bercerai berai dan terusirnya bani Quraizhah dari kota Madinah.

Apa yang menjadi hak Nabi dari harta peninggalan bani Quraaizhah tersebut dibagi-bagikan kepada istri-istrinya. Rasulullah saw tidak membagikannya sama rata disebabkan diantara mereka masih memiliki tanggungan anak yatim. Demikian juga beberapa dari mereka ada yang masih muda dan ada yang berusia lanjut serta latar belakang ekonomi yang berbeda.

Walaupun apa yang diberikan oleh Rasulullah melebihi dari kecukupan, suara-suara miring mulai terdengar diantara istri-istri Nabi tersebut sehingga menimbulkan perselisihan diantara mereka dan hal ini sampai kepada Nabi yang sangat amat kecewa mendengarnya. Nabi merasa terpukul dan untuk menghindari kekecewaannya, Nabi memutuskan untuk memisahkan diri dan tinggal di sebuah kamar sederhana di sebuah loteng di salah satu sudut masjid Nabawi. Rasulullah ditemani oleh seorang pembantunya yang bernama Rabah ra yang setia menjaga Nabi di tangga menuju loteng tersebut.

Para sahabat merasa gundah dengan kejadian ini. Umar bin Khatab ra, salah seorang sahabat Nabi yang setia meminta kepada Rabah ra untuk menyampaikan kepada Nabi agar Nabi berkenan untuk bertemu dengannya. Rabah naik ke loteng tersebut dan meminta izin. Setelah menunggu lama, akhirnya Nabi memberi izin kepada Rabah ra untuk memanggil sahabatnya itu.

Umar Ibn Khatab ra naik dan ketika melihat kondisi Rasulullah saw, Umar menangis. “Kenapa Engkau menangis wahai Umar?” “Bagaimana aku tidak menangis, ya Rasulullah, aku telah menyaksikan bekas guratan tikar yang Engkau tiduri di badanmu yang penuh berkah ini. Tikar itu hanya dari pelepah kurma tanpa alas kain sedikitpun dan bantal yang Engkau pakai hanya bantal dari kulit binatang yang berisi serabut kurma. Dan aku tidak menjumpai apapun dikamar ini, kecuali tiga helai kulit yang belum disamak dan sedikit gandum kasar. Raja-raja romawi, para kaisar, mereka hidup dalam kemewahan, demikian juga raja-raja persia, para kisra, hidup di taman-taman yang ditengahnya mengalir sungai. Memohonlah kepada Allah, agar Allah menganuggerahkan kepada Engkau dan ummat Mu kelapangan.” Rasulullah menjawab: “Tidakkah surga itu cukup bagi kita Umar?”

Umar masih menangis dan mengadukan kepada Nabi kegundahannya dan kegundahan para sahabat yang lain yang diwakilinya mendengar tuntutan para istri Nabi akan harta rampasan perang bani Quraizhah tersebut. Umar berkata, “Ya Rasulullah, para wanita kita sekarang telah berani menuntut kepada suaminya!” Nabi tersenyum dan berkata, “Umar, haruskah kita kembali ke zaman jahiliyah dahulu, ketika kaum pria menjadikan sebahagian dari istri-istri mereka diakui sebagai yang sah dan sebahagian lagi tidak; ketika sang suami wafat, sang istri tidak mendapat hak waris sedikitpun; dan mereka membangga-banggakan anak laki-laki dan mengubur hidup-hidup anak-anak perempuan mereka karena malu?” Umar menjawab, “Tentu saja tidak ya Rasulullah.” Nabi kemudian melanjutkan, “Ditampakkan oleh Allah kepadaku sebuah kejadian di masa depan, Seluruh jazirah arab ini akan tunduk dibawah kekuasaanmu, maka lemah lembutlah terhadap wanita. Sesungguhnya Allah menyukai hamba-Nya yang lemah lembut.” (HR Tirmidzi)

Beberapa hari setelah peristiwa ini berlalu, Allah ‘Azza wa Jalla menurukan QS Al Ahzab ayat 28-29 diatas. Allah membela ketetapan Rasul-Nya dan memerintahkan kepada Nabi untuk mengajak istri-istrinya hidup dalam kesederhanaan dan tidak menjadikan harta sebagai tujuan kesenangan untuk memperoleh gemerlap duniawi.

Walaupun hakikat ayat ini adalah untuk Rasulullah saw dan istri-istri Nabi, tapi sebuah pelajaran penting bagi kita umatnya bahwa jangan pernah menjadikan harta sebagai persoalan dalam menegakkan sebuah rumah tangga yang sakinah. Allah ‘Azza wa Jalla Maha Berkehendak melapangkan dan juga Maha Berkehendak untuk menyempitkan.

“Hendaklah orang yang mampu (suami) memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS Ath Thalaaq [65]:7)

Wallahu ‘alam Bissawab

(M. Fachri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: