Kisah Seorang Ayah by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

Kisah Seorang Ayah

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara pasangan-pasangan hidupmu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya harta-harta kamu, dan anak-anak kamu adalah ujian (bagimu); di sisi Allah ada ganjaran (pahala) yang besar” (QS At Taghaabun [64]:14-15)

Seorang ayah itu merintih. Dimasa tuanya, ia merasa tidak bahagia. Anak laki-lakinya yang hanya ia miliki seorang, telah menjadi seseorang yang sangat berbeda dari apa yang ia inginkan dan rencanakan. Dalam hal keduniaan, ia telah banyak ‘memberi’ kepada anaknya itu. Ia telah menyekolahkannya sampai ke negeri seberang benua lain dan mendapat gelar S-2 dari sana. Demikian juga ketika anaknya itu telah mendapat ‘gelar’ nya, ia telah menyiapkan sebuah perusahaan trading tempat anaknya itu akan menjadi pimpinan perusahaan. Latar belakang sang ayah yang pernah menjadi pimpinan puncak sebuah perusahaan negara menjadikan ia sangat dihormati oleh siapapun. Dan ketika ia pensiun beberapa tahun yang lalu, banyak ‘mantan’ mitra kerjanya yang merapat kepadanya untuk mengajaknya membangun usaha bersama. Ia telah memilih salah satu diantaranya demi kelangsungan hidup sang anak lelaki itu. Merekapun bersepakat untuk mendirikan sebuah perusahaan trading commoditas. Selama sang anak belum siap, pimpinan akan dipegang oleh mitranya itu. Sang ayah dan mitranya menyiapkan segalanya dengan sangat rinci dan teliti, termasuk mengirim anaknya untuk training di beberapa negara lain, tempat dimana mitra kerjanya ini memiliki affiliasi usaha.

Tapi semua rencana-rencana itu buyar. Walaupun sang anak patuh ketika sang ayah memintanya untuk bergabung ke usaha ini, sang anak memilih untuk mengundurkan diri beberapa tahun kemudian. Sang anak beralasan, usaha itu bertentangan dengan hati nuraninya dan tidak sesuai syariah. Sang anak lebih memilih untuk menjadi dosen sebuah perguruan tinggi dan memulai usaha kecilnya.

Dalam hati kecil sang ayah, ia ingin anaknya menjadi orang yang ‘berpengaruh’ dan ‘cukup’ seperti dirinya. Ia sadar hidup di dunia ini harus dibangun dengan kerja keras dan keuletan. Sebagai orang yang mempunyai pengalaman dalam menjalani hidup, ia berusaha untuk mengajari sang anak berdasarkan pengalaman hidupnya yang keras dimasa lalu. Dari seorang pegawai rendahan menjadi seorang pimpinan. Dari seorang yang tidak dikenal menjadi seorang yang sangat dihormati.

Dalam hal keyakinan agama, sang ayah telah menerapkan sebuah kehidupan yang religius di keluarganya. Sang Ayah memberi kesempatan kepada anak lelakinya itu untuk belajar agama dari ulama-ulama yang kompeten di kotanya. Anaknya tumbuh menjadi seorang yang berakhlak mulia dan memegang teguh keyakinannya dimanapun ia berada. Tapi ini belum cukup bagi sang ayah, ia ingin lebih dari itu. Ia ingin anaknya meraih sukses di dunia.

Ketika hal ini dikisahkan oleh sang anak kepada hamba itu, ia melihat kisah di atas adalah sebuah ‘kisah cinta’ dari seorang ayah yang begitu mendalam kepada anak lelaki semata wayangnya. Pengalaman sang ayah yang menjalani sebuah kehidupan dari bawah hingga mencapai puncak dalam hal materi dan kekuasaan menjadikan kehidupan sang anak bagaikan sebuah ‘mainan remote control’. Sang ayah yang memegang remote control itu dan si anak hanya patuh mengikuti perintah. Sang ayah, yang atas nama cinta, mengarahkan anaknya untuk menjadi seperti dirinya. Membebaninya dengan beban yang berat dan bisa jadi amat sulit terjangkau bahkan bertentangan dengan bakat dan kecenderungan sang anak. Begitu banyak orangtua modern saat ini, ingin selalu meng-‘intervensi’ seluruh kehidupan anak-anak mereka. Mereka memaksakan pilihannya dalam hal sekolah, jodoh, pekerjaan, bahkan memaksanya menceraikan istri yang amat dikasihi sang anak.

Hamba itu teringat kembali akan sebuah hadish Rasulullah Saw, “Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla” (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)

Hadish Rasulullah diatas menjelaskan, “Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya.” Adalah sebuah ungkapan yang amat sederhana yang memiliki arti: keterikatan bathin yang amat dalam agar anak dan orangtua dapat saling memahami, menjadi sahabat dan teman saling bertukar pikiran. Berapa banyak anak-anak kita yang tidak lagi merasakan dapat bermain bersama orangtuanya dan saling memahami karena kesibukan orang tua dalam hal mencari keduniaan?

Seorang ulama berkata, “Cinta kepada anak adalah sebuah hubungan yang sangat mesra antara dua ‘aku’. Kalaulah orang tua memaksakan anaknya menjadi ‘kelanjutannya’ atau ‘sama dengannya’, maka pudarlah cinta. Karena dengan pemaksaan ini, ‘aku’ menjadi satu dan bukan ‘dua’ lagi. Dan hal ini berarti telah membunuh jiwa, perasaan dan kepribadian sang anak.”

Sang ayah dalam kisah diatas, dihari tuanya telah merasakan sebuah kegetiran hidup dan merasa gagal dalam hidup. Seharusnya tidaklah demikian. Ia telah mengajarkan kepada anaknya sebuah kehidupan yang ‘religus’ sehingga anaknya memiliki akhlak mulia dan teguh dalam ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Walaupun saat ini sang anak, sesuai dengan penuturannya, menjadi seorang manusia kecil, tapi ia banyak memberi kebaikan kepada manusia lain dalam usaha kecilnya itu. Ia terlibat dalam kegiatan dakwah yang mengajak ‘amar makruf nahi munkar bagi komunitasnya dan amat sangat memperhatikan serta mendoakan sang ayah disetiap sujudnya. Bukankah doa seorang anak yang shaleh itu yang akan menyelamatkannya kelak dari segala siksa kubur dan kegetiran hari pembalasan?

Ingatlah sabda Rasulullah saw, “Jika seseorang telah wafat, maka putuslah segala amalnya, kecuali tiga hal: sedeqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.”(HR Muslim).

Penutup dari kisah ini ada pada sebuah peristiwa di zaman Rasulullah Saw. Dalam suatu majelis Rasulullah mengingatkan para sahabat-sahabatnya, “Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah ‘Azza wa Jalla memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?” Nabi Menjawab, “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” (HR Abu Daud)

Wallahu ‘Alam Bissawab
Yang fakir kepada ampunan
Rabb-nya Yang Maha Berkuasa

(M. Fachri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: