I’tikaf by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

I’tikaf.

Tidak terasa saat ini kita berada pada hari ke 19 ramadhan 1430 H dan besok malam adalah malam ke 21 ramadhan dimana sebahagian umat islam akan mulai menjalankan i’tikaf sesuai yang disunnahkan Rasulullah saw.

Iktikaf adalah berdiam di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Hukum i’tikaf adalah sunnah mu’akkad (yang dikuatkan). Hal ini dilakukan Rasulullah saw di sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan bersama istri-istri, dan para sahabat Nabi. Kebiasaan yang saat ini telah menghilang dan yang tersisa hanyalah tulisan-tulisan dalam buku-buku. Umat islam saat ini enggan untuk melaksanakannya padahal begitu banyak keutamaan i’tikaf ini.

Banyak hadish shahih yang menjelaskan mengenai keutamaan i’tikaf diantaranya adalah:

Dari Abu Hurairah, “Rasulullah saw ber i’tikaf disepuluh hari akhir bulan ramadhan sampai Allah SWT mewafatkan beliau” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Aisyah rha, “Telah ber i’tikaf Rasulullah bersama istri-istri beliau kecuali aku yang saat itu sedang haidh.” (HR Bukhari)

Rasulullah saw bersabda, “I’tikaf itu mencegah dari perbuatan dosa dan mengalirkan kebaikan. Jika engkau ber i’tikaf, hal itu seperti engkau berbuat semua jenis kebaikan yang ada dimuka bumi.” (HR Ibnu Majah)

Syarat-syarat i’tikaf adalah dilaksanakan di Masjid Jami’ (mesjid tempat dilaksanakannya shalat fardhu jumat) berdasarkan hadish dari Aisyah rha, “Sunnah bagi orang yang ber i’tikaf adalah tidak keluar dari masjid kecuali jika ada keperluan yang mendesak, tidak menjenguk orang sakit, dan tidak menggauli istrinya. Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid jami’ dan sunnahnya bagi yang beri’tikaf adalah puasa.” (HR Baihaqi dan Abu Daud)

Hal yang dibolehkan dalam ber i’tikaf adalah:
1.Keluar masjid untuk suatu keperluan seperti mandi, buang air dan urusan yang sangat mendesak berdasarkan hadish riwayat Baihaqi dan Abu Daud diatas
2.Wanita dibolehkan ber i’tikaf baik bersama suami maupun sendirian berdasarkan hadish bersumber pada Aisyah rha, “Telah ber i’tikaf Rasulullah bersama istri-istri beliau kecuali aku yang saat itu sedang haidh.” (HR Bukhari). Setelah Rasulullah saw wafat kebiasaan i’tikaf ini diteruskan oleh istri-istri Nabi dan para sahabat Rasulullah saw

Hal yang membatalkan I’tikaf adalah jima’ (menggauli istri). Hal ini berdasarkan firman Allah dalam QS Al Baqarah [2]:187.

Tidak ada amalan atau doa khusus yang diajarkan Rasulullah saw dalam ber i’tikaf, tapi Rasulullah saw pernah mengajarkan kepada Aisyah rha sebuah doa disepuluh malam terakhir ramadhan untuk memperoleh Lailatul Qadar. Aisyah rha bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, pada malam-malam lailatul qadar, apa yang sebaiknya aku lakukan?” Nabi menjawab, “Berdoalah dengan melafazkan, Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku) ” (HR At Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Demikianlah penjelasan mengenai i’tikaf yang bersumber pada kitab “Qiyam Ramadhan” karya Syaikh M. Nashiruddin Albani dan “Bid’ah-Bid’ah yang dianggap Sunnah” karya syaikh Muhammad ‘Abdussalam.

Wallahu ‘alam Bissawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: