Hamba Allah. Kiriman seorang Anggota eDakwah by Mohammad Yasser Fachri

Ketika i’tikaf sedang dilaksanakan di sebuah masjid yang agung di bilangan Jakarta, terdengar suara riuh diluar masjid. Saat itu waktu menunjukkan pukul 1.00 pagi Raungan sepeda motor dan mobil begitu memecah keheningan dan sesekali terdengar suara sirene dari kendaraan polisi yang mengawal iring-iringan pemecah keheningan itu.

Dalam perjalanan dari rumah ke masjid, hamba itu banyak menemui hambatan di jalan. Iring-iringan motor dengan bendera yang selalu mengabaikan setiap lampu lalu lintas yang ada dan juga iring-iringan mobil yang kebanyakan dari mereka dikawal oleh sebuah ‘Moge’ Polisi menandakan dari kelas masyarakat mana mereka berasal. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda yang ingin berbagi makanan sahur untuk kaum ‘papa’ yang banyak ditemui dipinggiran jalanan Jakarta. Mereka menamakan kegiatan itu dengan istilah ‘Sahur On The Road’. Hamba itu baru tersadar ini adalah hari Sabtu malam, hari dimana kegiatan itu selalu ramai dilakukan.

Setelah lama berjuang dan bersabar, akhirnya hamba itu sampai juga di masjid tempat ia berniat melaksanakan I’tikaf. Satu pertanyaan yang tersisa dalam hatinya, beginikah wajah kaum muda kita? Melakukan kegiatan yang pada dasarnya adalah kebaikan karena menolong orang yang lemah dengan memberi makan kepada mereka. Tapi kegiatan itu dari sisi yang lain menampilkan wajah islam yang penuh hura-hura, arogan dan jauh dari kesantunan. Ketika konvoi kendaraan itu secara arogan menembus segala rambu-rambu yang harus dipatuhi. Ketika kilatan kamera mengabadikan uluran nasi kotak-nasi kotak mereka kepada kaum papa. Yang memberi dengan senyuman gembira dan puas sedang yang menerima dengan wajah sedih dan lirih. Bukankah ini sebuah eksploitasi dari kemiskinan yang ada diwajah kita?

Waktu menunjukkan pukul 2.00 pagi. Hamba itu beranjak keluar sebentar dari i’tikaf nya. Di tangga bawah dari masjid yang agung itu, ia memperhatikan seorang pemuda dengan wajah yang bersih. Seorang yang masih terpaut usia jauh dibawahnya. Ia melihat pemuda itu membagikan selembar rupiah yang berwarna kebiruan kepada setiap pemulung yang mencoba mencari peruntungan di tempat-tempat sampah di sekitar masjid. Jika dihitung jumlah pemulung itu lebih dari lima orang. Tak ada kilatan kamera, tak ada konvoi. Ia bergerak sendiri dan ia juga sedang dalam jeda i’tikaf nya.

Dengan perlahan hamba itu mendekatinya di tangga masjid, tempat dimana banyak dari jamaah sedang duduk melepas lelah. Terjadilah sebuah dialog yang amat mengesankan. Pemuda itu bertutur bahwa ia terdorong untuk melakukannya karena ibunya telah mengajarkan sebuah pesan kehidupan yang luar biasa. Ia berkata, “Almarhumah Ibu saya pernah mengingatkan saya, Pak. Kalaulah tidak ada orang miskin di dunia ini, kita sudah lama binasa. Sebagai orang yang dilapangkan rezeki oleh Allah, kita merasa menjadi orang yang paling bersyukur, padahal tidaklah demikian. Menjadi orang miskin yang bersyukur adalah lebih berat daripada menjadi orang kaya yang bersyukur.” Ia lalu menyampaikan sebuah ayat yang di dalam Al Quran.

“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), agar (orang-orang yang kaya itu) berkata: ‘Orang-orang semacam inikah diantara kita yang diberi anugerah oleh Allah?’ (Allah berfirman). Tidakkah Allah lebih mengetahui siapa diantara orang-orang itu yang bersyukur (kepada-Nya).” (QS Al An’aam [6]:53)

Ia melanjutkan dengan mengatakan, “Saya ingin seperti Syaidina Abu Bakr, Pak. Bersedeqah karena rindu akan wajah Allah.” Terlihat matanya berkaca-kaca saat berkata. Hamba itu tersenyum. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh anak muda tadi. Pikirannya tertuju kepada beberapa ayat dari kitab yang mulia,

“Dan mereka memberi makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Mereka berkata), ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS Al Insaan [76]:8-9)

Dalam beberapa tafsir kata ‘Liwajhillah’ diartikan dengan kata ‘untuk mencari keridhaan Allah’ walaupun arti yang lebih dapat diterima adalah ‘karena kerinduan akan wajah Allah’ Inilah nilai tertinggi dari sebuah ibadah. Sebuah pernyataan yang mengandung nilai keikhlasan yang sangat tinggi. Ayat diatas turun berkenaan dengan sikap Abu Bakr ra yang banyak membantu para kaum papa di zamannya.

Hamba dan pemuda itu mengakhiri dialog mereka. Keduanya kembali melanjutkan i’tikaf mereka. Hamba itu bekata dalam hatinya, “Ya Allah, dalam perjalanan ke rumah Engkau ini aku menyisakan sebuah pertanyaan dalam hatiku, beginikah wajah kaum muda kami? Engkau telah memberi sebuah jawaban yang amat menenteramkan hatiku. Seorang hamba-Mu yang Engkau muliakan dengan amal shaleh nya. Seorang hamba-Mu yang merindukan wajah Engkau. Sungguh sebuah pelajaran yang amat berharga bagiku ya Rabb.”

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkan diatas segala agama-agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS Ash Shaff [61]:8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: