Rangkuman Kebajikan by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

Rangkuman Kebajikan

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu adalah suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janji apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al Baqarah [2]:177)

Kepada siapakah ayat diatas ditujukan Allah? Kepada orang kafirkah? Atau kepada kita hamba-Nya yang mengaku beriman? Dari beberapa riwayat dan tafsir yang menjelaskan, ayat diatas ditujukan Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita yang mengaku beriman dan yang mengaku selalu berpedoman pada uswatun hasanah, Rasulullah saw. Ada apa dengan hal ini? Allah SWT mengingatkan hamba-Nya bahwa agama yang Dia ridhai bukanlah hanya sekedar menjalankan ibadah sholat yang diwajibkan. Kebanyakan dari kita berpikir bahwa dengan sholat (menghadapkan wajah kita ke kiblat ke sebelah barat atau timur tergantung dari posisi geografis kita) maka kebahagian hidup itu akan diraih dan ketinggian derajat akan diperoleh serta surga akan menjadi tempat kembali. Sholat hanyalah salah satu dari kebajikan yang Allah tetapkan untuk kita. Dalam hal sholat, kita pun masih banyak lalai. Masih banyak dari kita jangankan mengerti akan makna ibadah sholat, rukun dan aturan-aturannya pun masih kita abaikan. Sering terlihat bahwa kita masih mementingkan diri sendiri ketika sholat berjamaah ditunaikan. Lebih-lebih di malam-malam ramadhan dimana kita banyak melakukan kegiatan qiyamul lail (sholat tarawih). Ketika imam menyuruh kita merapatkan dan meluruskan barisan (Shaf), kita bergerak sekenanya. Ketika makmum disebelah kita meminta kita untuk melakukan hal yang sama, kita mengabaikannya malah terkesan tidak senang dan menggerutu. Kadangkala kita membaca surat Al Fatihah sebagai makmum dengan suara yang keras sehingga mengganggu makmum lainnya. Demikian juga ketika sholat selesai ditunaikan, kita berdoa dengan suara yang keras sehingga orang-orang disekitar terganggu dan berpaling dari kita. Seolah-olah ibadah sholat itu hanya milik kita sendiri dan tidak perlu memperhatikan keadaan disekitar kita. Apakah ini yang Rasulullah ajarkan kepada kita? Allah tidak ingin kita menjadi hamba-hamba-Nya yang egois. Merasa diri yang paling benar karena merasa sudah menjalankan ibadah sholat dan merasa itu sudah cukup bagi kita. Kita merasa dengan sholat seperti itu kita telah menjadi hamba-Nya yang sholeh. Ternyata hal itu adalah kekeliruan.

Allah menyampaikan bahwa kebajikan yang sempurna itu sangatlah beragam, dimulai dari ‘Beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat , kitab-kitab dan nabi-nabi’ hingga bersedia mengorbankan harta yang dicintainya (bukan sisa harta atau harta yang tidak dibutuhkan lagi) untuk diberikan kepada kerabat (saudara kandung, jauh dll) yang membutuhkan. Demikian juga untuk anak-anak yatim, orang miskin, musafir dan peminta-minta serta membebaskan seseorang dari penganiayaan majikan ataupun atasannya. Semua ini menuntut sebuah keikhlasan.

Setelah mendahulukan meneguhkan iman terhadap yang ghaib (iman kepada Allah, hari kemudian dst…) dan kemudian beramal sholeh dengan kepedulian terhadap lingkungan sekitar (membantu kaum kerabat, anak-anak yatim dst…) barulah kemudian hubungan kepada Allah harus dibina dan terpelihara (mendirikan sholat secara sempurna dan kewajiban untuk zakat). Jika ketiga hal ini terlaksana dengan baik, semuanya akan tersemai di dalam jiwa seorang hamba dengan akhlak mulia yang dimilikinya. Ia akan menjadi seorang hamba yang selalu menepati janjinya apabila ia berjanji, dan sabar dalam kesempitan, penderitaan maupun krisis (peperangan) yang melanda. Dan Allah memuji mereka sebagai hamba-hamba-Nya yang benar (dalam menapaki jalan-Nya yang lurus) dan mereka layak pendapat predikat taqwa.

Ayat ini adalah sebuah rangkuman segala kebajikan dalam ajaran islam. Dan hal ini membuat kita bertanya pada diri kita sendiri, sudahkah semua kebajikan ini kita perbuat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: