Pakaian by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

Pakaian

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagi kamu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…” (QS Al Baqarah [2]: 187)

Dalam ayat diatas, Allah mengibaratkan hubungan suami/istri seperti pakaian. Seperti kita ketahui, tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak membutuhkan pakaian untuk melindungi dirinya. Ada tiga fungsi pakaian yang kita kenal dan pahami. Pertama, pakaian berfungsi untuk melindungi diri dari segala keadaan luar yang dapat merusak jasmani kita sendiri. Yang Kedua, pakaian berfungsi untuk menunjukkan status tentang siapa diri kita yang sebenarnya. Dan yang ketiga, pakaian berfungsi untuk memperindah diri yang memakainya.

Dalam hal fungsi pakaian yang pertama, pernahkan kita merenung dan bertanya pada diri kita sendiri. Sudahkah kita menjadi pelindung bagi pasangan hidup kita sebagaimana pakaian melindungi seseorang dari aurat yang terlarang untuk dilihat dan kekurangan jasmani yang ada? Apakah kita telah benar-benar menjadi pelindung bagi segala aib pasangan hidup kita? Menutupi kekurangan istri/suami kita? Pelindung dalam kegelisahan dan kesulitan? Pelindung dalam suka dan duka? Ketika istri/suami kita memperoleh kebahagiaan, sudikah kita untuk mengajaknya bersyukur atas apa yang telah Allah karuniakan. Disaat istri/suami memperoleh kesusahan, sudikah kita untuk mengajaknya bersabar dengan tidak menyalahkan apa yang telah ia lakukan?

Fungsi pakaian yang kedua adalah menunjukkan status siapa diri kita sebenarnya. Setiap orang yang berpakaian akan dapat terlihat kepribadiannya dan status sosialnya, apakah ia seorang yang ingin selalu menonjolkan dirinya (pamer), apakah ia seorang yang sederhana, elegan, ataupun asal-asalan. Juga akan terlihat apakah ia lebih mengutamakan keindahan atau ‘korban mode’ semata. Demikian juga dengan hubungan suami/istri. Semua mata akan selalu tertuju kepada mereka. Apa yang terlihat pada diri istri atau suami mencerminkan keadaan rumah tangga mereka. Keceriaan sebagai tanda kebahagian ataupun kerutan wajah sebagai tanda beban yang sedang dipikul sudah cukup mencerminkan seperti apa hubungan suami/istri itu sebenarnya. Terlebih-lebih jika suami/istri berkeluh kesah kepada salah seorang sahabatnya, akan tampaklah seperti apa keadaannya.

Demikian juga fungsi pakaian yang ketiga adalah memperindah diri. Sudahkah kita sebagai suami/istri menjadi bagian terindah dari pasangan hidup kita? Seorang suami yang menjadi kepala rumah tangga akan merasa sangat betah dirumahnya, karena ia merasakan kebahagiaan dan keindahan yang ada disana. Demikian juga istri akan menjadikan hari-hari yang dijalani bersama suaminya adalah sebuah keindahan dan harus disyukuri. Ingatannya selalu tertuju pada saat mereka meluangkan waktu berdua untuk berkomunikasi dan membahas masalah mereka berdua sampai dengan masalah anak-anak mereka yang memerlukan perhatian. Banyak orang yang ingin selalu merasakan keindahan ini, tapi berapa banyak dari kita yang masih merasakannya setelah sekian lama berumah tangga? Disaat awal perkawinan, keindahan ini sungguh terasa, tapi perlahan pupus dan tak jarang malah menimbulkan kepahitan. Kenapa hal ini terjadi?

Rasulullah saw pernah menyampaikan, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Orang yang paling baik budi pekertinya adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR At Tirmidzi)

Hadish diatas menyampaikan pesan kepada kita bahwa keindahan itu akan terasa dan selalu menyertai dengan akhlak mulia. Sebuah kunci pokok yang akan menjaga sebuah rumah tangga dari hal-hal yang merusak keindahannya. Bukankah maraknya perselingkuhan dan KDRT adalah cerminan dari absennya akhlak yang mulia ini dari sebuah rumah tangga?

Seperti yang kita ketahui seluruh rangkaian ibadah dalam islam apakah itu sholat, puasa haji dan zakat/sedeqah selalu bermuara pada keindahan akhlak yang terpancar pada pribadi seorang hamba Allah. Demikian juga dengan puasa yang sedang kita jalani ini. Tujuan akhirnya adalah menjadikan kita seorang yang bertaqwa yang memiliki akhlak mulia. Dan sifat-sifat ini tercermin dalam Al Quran QS Al Furqan [25]:63-77. Sangat panjang untuk diuraikan disini tapi sungguh sangat bermakna jika kita meluangkan waktu untuk membacanya dalam kitab yang mulia.

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushshilat [41]:35)

Rasulullah mengajarkan sebuah doa yang sangat indah dan singkat bagi kita untuk meneladaninya. “Ya Allah, Engkau telah menciptakan diriku dengan sempurna, maka baguskanlah akhlak ku.” (HR Ibnu Hibban )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: