SEBUAH PERBUATAN AKAN BERCAHAYA BILA BERBAHAN BAKAR KEIKHLASAN by Jeffry Husman. Re-posted by Iqraa A.

SEBUAH PERBUATAN AKAN BERCAHAYA BILA BERBAHAN BAKAR KEIKHLASAN
Kiriman dari seorang anggota eDakwah: Jeffry Husman

SEORANG kawan senang betul sholat sunnah kalau ia berada di kota lain.
Memang, Rasulullah mengatakan bahwa jika kita bepergian jauh, begitu sampai di tempat tujuan segera menegakkan sholat sunnah dua rakaat. Itu merupakan tanda syukur kita sudah sampai dengan selamat.

Suatu hari ada seorang teman pergi ke satu tempat. Sebagaimana biasa, ia mencari masjid atau mushala. Layaknya orang yang mau sholat, kawan ini mencari toilet dan tempat wudhu. Tapi, langkah dia tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang sepertinya dikenali. Sebut saja bernama Fulan, kawan SMP yang sangat pintar.Untuk sementara dia tertegun. “Tidak salahkah penglihatanku? ” tanyanya pada diri sendiri. Fulan yang tengah membersihkan toilet dan tempat wudhu itu diamati beberapa saat. Pria itu berbaju khas merbot masjid; kaosan, celana buntung, dengan peci haji yang didongakkan ke belakang kepala. Fulan tengah mengepel.

“Assalamualaikum. ..,” sapa dia dengan hati-hati, khawatir salah mengenali seseorang. Ternyata penglihatannya tidak salah. Yang di depan mata benar-benar Fulan, kawan dia. Fulan juga mengenali diri dia, dan menanyakan urusan datang ke kota ini.Masih di koridor tempat wudhu masjid tersebut, kawan ini melanjutkan pertanyaan, “Kenapa Fulan hanya jadi merbot masjid? Dan, kenapa mau?” Yang ditanya tersenyum. “Memangnya ada yang salah dengan kerjaan ini? kan,bagus. Dengan saya menjadi merbot, masjid ini jadi bersih. Kalau bersih, kan yang sholat jadi senang. Betah. Akhirnya saya pun dapat pahalanya,” ujarFulan.” Tapi, penghasilannya kan tidak sepadan. Lagian Fulan kan dulu pintar. Cerdas. Sangat cerdas malah. Selalu ranking, kok kayaknya gimana, gitu….?

Fulan kembali tersenyum, dengan tangan kiri tetap mengelap sisi pinggir
tempat wudhu.”Gimana kalau Fulan ikutan sama saya?” “Maksudnya?”
“Ya, kerja sama saya. Fulan bisa saya gaji lebih besar dari penghasilan
sebagai merbot ini. Ngomong-ngomong jadi merbot digaji nggak?”
“Nggak.” “Wuah, apalagi nggak. Sudah kerja sama saya saja. Pendidikan terakhir?” “Sarjana elektro,” katanya. “Waduh, tambah nggak pantaslah. Masak sarjana elektro jadi merbot. Yang beginian mah, maaf, nggak perlu tamatan elektro. Cukup tamat SD saja. Maaf ya, Mas. Cuma rasanya, gimana gitu sayamelihatnya.. ..” “Ya, sudah,” jawab Fulan, “Salat saja dulu. Nanti kita ngobrol lagi. Sambil ngopi, biar saya buatkan sekalian.”

Kawan ini pun mengambil air wudhu, sambil tetap mikirin Fulan. Kala dia mau mengambil posisi shalat, seorang anak muda yang tampaknya juga merbot masjid bertanya : “Pak Haji, Bapak kenal Pak Haji Fulan, ya?” “Iya. Dia kawan saya waktu di SMP, dulu….” “Pak Haji, Pak Haji Fulan itu yang bangun ini masjid. Dia orang kaya di sini….” kata anak muda tersebut dengan datar. “Orangnya baik, Pak. Rendah hati. Sederhana. Padahal amalnya buanyak….” Tidak berhenti di sini, si anak muda itu pun bercerita bahwa Haji Fulan adalah pengusaha alat-alat listrik dan toko bangunan yang maju. Dia pengusaha daerah yang sangat cinta masjid. Dia mengaku dapat semua keberkahan ini karena sangat menjaga shalat berjamaah dan mencintai masjid. Makanya, kala sukses, dia membangun masjid kecil ini. Begitulah cita-cita dia. Bahkan dia berangan-angan untuk
berkhidmat pada hamba-hamba Allah yang shalat di masjidnya.
Pelanggan-pelanggan nya pun tahu kalau mau mencari Haji Fulan, temui saja di masjid dia.

Masya Allah. Hati kawan ini tiba-tiba saja merasa malu. Ia telah merendahkan “jabatan” merbot masjid. Apalagi, ternyata Fulan inilah yang berada di balik pembangunan masjid tersebut. Dia berpikir, andai “merbot” tersebut adalah diri dia, dan orang menyangkanya sebagai pembersih masjid, pasti bakal diluruskan, “Maaf, saya lho yang membangun masjid ini. Saya mah kebetulan saja senang membersihkan masjid.” Masya Allah, Fulan adalah sosok lain. Dia justru menyembunyikan amalnya.Ikhlas nian. Kawan ini beristigfar. Tanpa perlu gembar-gembor, Allah sudah membanggakan hamba-hamba- Nya yang ikhlas. Allah yang bangga terhadapnya, dan membuat anak muda tadi berbicara tentang siapa sebenarnya Fulan. Keikhlasannya membuat Fulan bercahaya. Bahkan makin bercahaya.”…

“…Dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya…” (Q.S. al-A’raf[7]: 29)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: