RAMADHAN by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa.A

Ramadhan
29 Sya’ban 1430H (20 Agustus 2009M)

Berapa kalikah dalam hidup, kita telah melaksanakan ibadah puasa ramadhan? Jika kita telah berpuasa sejak umur 10 tahun secara penuh, sebahagian dari kita ada yang telah melaksanakannya lebih dari 20 kali, ada yang 30 kali bahkan mungkin ada yang telah melaksanakannya lebih dari 40 kali dalam hidupnya. Rasulullah saw sendiri tidak lebih dari 8 kali melaksanakan puasa ramadhan. Ibadah puasa ramadhan sendiri menurut beberapa riwayat yang shahih baru diwajibkan setelah perang Badar di tahun ke-2 Hijrah.

Kemudian kita kembali bertanya kepada diri kita, apakah dengan berpuasa ramadhan yang berpuluh kali itu, membawa perubahan pada diri kita? Kebiasaan kita? Kepedulian kita?

Allah berfirman di QS Al Baqarah [2]:183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Setiap ibadah dalam islam memiliki tujuan dalam pelaksanaannya. Taqwa adalah tujuan seorang hamba dalam berpuasa. Seperti sholat memiliki tujuan “mencegah dari perbuatan keji dan munkar” (QS Al Ankabut [29]:45). Juga sedeqah/zakat memiliki tujuan “untuk mensucikan diri” (QS At Taubah [9]:103). Tujuan-tujuan dari ibadah tersebut selalu bermuara pada akhlak yang baik (khusnul khuluq). Jika akhlak seorang hamba itu semakin baik, maka tujuan ibadahnya telah tercapai, tetapi jika sebaliknya, maka ibadahnya masih harus disempurnakan lagi.

Taqwa sebagai tujuan dalam ibadah puasa sering diartikan sebagai “Mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang.” Hal ini telah menjadi definisi baku bagi kita sejak kanak-kanak hingga dewasa. Dan hal ini terus kita ajarkan kepada generasi berikutnya. Kalau kita berpikir sedikit lebih dalam, ada hal yang terlupakan dari definisi ‘taqwa’ yang kita buat. Taqwa itu selalu identik dengan ‘keikhlasan’. Kenapa kita mengerjakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi larangannya? Apakah karena terpaksa? Apakah karena orang tua kita memaksa kita? Atau pasangan hidup kita yang memaksa? Atau karena kita tidak punya pilihan lain? Kalau benar hal ini terjadi, kita tidak dapat dikatakan orang yang ‘bertaqwa’ karena apa yang kita buat adalah karena ‘keterpaksaan’. Alangkah indah jika keikhlasan itu yang menjadi dasarnya. Tidak ada beban yang kita panggul. Tidak ada hambatan yang kita pikul. Bayangkan jika seseorang yang bersedeqah, ia ikhlas mengeluarkan uang jutaan Rupiah karena ingin membantu saudaranya yang terkena mushibah “hanya” mengharap ridha Allah semata. Demikian juga orang yang berpuasa. Ia dengan ikhlas menahan haus dan laparnya serta lisannya dari mengatakan sesuatu yang tidak benar. Juga ia sanggup untuk menjaga seluruh anggota tubuhnya yang berupa mata, telinga, tangan dan kakinya serta kemaluannya dari sesuatu kemaksiatan “hanya” karena mengharap ridha Allah ‘Azza wa Jalla semata.

Ikhlas tempatnya di hati. Ikhlas timbul dengan pembiasaan diri dan tidak dapat diraih dengan ‘instan’. Ujian Allah yang datang silih berganti dalam kehidupan seorang hamba adalah lahan bagi sebuah keikhlasan untuk tumbuh dan menguat. Demikian juga dengan puasa. Puasa menempa seseorang untuk ikhlas beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena pada dasarnya puasa itu adalah sebuah ibadah yang berbentuk ujian. Seseorang yang berpuasa hanya ia dan Allah yang tahu kualitas ibadah puasanya itu. Ia bisa saja berbohong kepada seseorang bahwa ia masih berpuasa padahal kenyataannya ia telah membatalkannya, tapi Allah Maha Melihat. Begitu tinggi nilai puasa disisi Allah karena dalam suatu hadish Qudsi Allah berkata, “ Puasa itu milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR Bukhari )

Dengan keikhlasan yang tumbuh dihati, ketaqwaan akan dapat diraih dengan mudah dan muara yang terlihat adalah pada akhlak seseorang. Ia akan menjadi hamba Allah yang memiliki kepedulian pada keadaan sekelilingnya, ia akan menjadi hamba Allah yang santun dan lembut serta menjauhi segala bentuk kekerasan dan kedzaliman. Seorang hamba yang tersayat hatinya jika melihat ketidakadilan dan kemelaratan yang ada di depan matanya. Ia akan sekuat tenaga membantu dan merubah keadaan itu. Inilah yang Allah SWT sebut dalam kitab-Nya yang mulia sebagai hamba-hamba-Nya yang mukhsin. “…Dan Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang mukhsin” (QS Ali Imran [3]:134)

“Dan sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams [91]:9-10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: