Menjaga Silaturrahim by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa.A

Menjaga Silaturrahim

Rasulullah saw bersabda: “Ada sebagian hamba Allah, mereka bukan para rasul Allah ataupun nabi, juga bukan para syuhada, tapi dirindukan oleh para rasul Allah, para Nabi, dan para syuhada karena kedudukan mereka yang dekat dengan Allah di akhirat kelak.” Maka para sahabat nabi pun bertanya: “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah kemudian menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai disebabkan rahmat Allah, bukan dasar kerabat dan bukan karena harta yang mereka saling berikan. Demi Allah, wajah-wajah mereka begitu bercahaya bahkan sangat bercahaya. Mereka tidak takut disaat manusia takut dan mereka tidak sedih pada saat manusia lain sedih dalam menghadapi kesempitan dan kesulitan hidup. (HR At Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Hibban)

Ketika senja itu mulai tampak di Madinah, begitu juga dengan jajaran pergunungan Uhud yang mulai tampak memerah. Suatu pemandangan yang menakjubkan bagi seorang hamba. Ia teringat akan Rasulullah yang sering memandangi gunung Uhud ketika senja menerpa. Satu saat terlontar dari lisan manusia termulia sepanjang zaman itu, Rasulullah saw, “Allah memuliakan gunung Uhud.” Rasulullah juga banyak memakai perumpamaan gunung Uhud untuk menjelaskan sesuatu mengenai harta ataupun balasan sedeqah.

Sore itu, beribu-ribu manusia berusaha memasuki Masjid Nabawi yang megah dan agung itu untuk berbuka puasa. Ada sebuah kebiasaan setiap bulan ramadhan, Masjid Nabawi menjadi tempat jamuan berbuka yang bermeter-meter panjangnya. Sumber hidangannya berasal dari sedeqah siapa saja yang ingin. Kadang mereka mempersiapkan pelayan-pelayan yang begitu ramah di dalam masjid.

Hamba itu memasuki salah satu pintu dari masjid Nabawi dari arah gunung Uhud berada. setelah puas melihat keindahannya. Ketika salawat kepada Nabi baru saja selesai dilantunkan dan doa masuk masjid belum sempat diucapkan, dua diantara ‘pelayan orang yang berbuka’ itu menarik tangannya dengan lembut ingin mempersilahkan dirinya duduk diantara jamuan yang agung itu. Raut wajah mereka begitu ramah sambil mengucap ‘ahlan wa sahlan’. Hamba itu pun duduk. Di depannya begitu banyak makanan yang terhidang, mulai dari kurma Nabi yang bernama ambar dan ajwa, yougurt, roti dan minuman berupa susu dan teh arab yang pekat. Suasananya begitu hening dan menentramkan.

Ketika adzan itu berkumandang, semua yang hadir begitu khusyu’ berdoa sebelum berbuka seolah ingat akan sabda Rasulullah saw:

“Tidak ada yang paling membuat seorang mukmin bahagia selain ketika ia berbuka dan ketika kelak ia berjumpa dengan Rabb nya. Perbanyaklah doa karena seseorang yang berdoa ketika ia berbuka tidak akan tertolak.” (HR Muslim)

Para ‘pelayan orang berbuka’ tadi terus melayani para tamunya yang duduk dalam jamuan. Mereka menuangkan minuman, memastikan bahwa roti ataupun yougurt tetap dapat dinikmati oleh tamu-tamunya. Sesama tamu dalam jamuan pun saling mempersilahkan satu sama lain. Begitu indah suasananya. Tidak lama hal ini berselang, masing-masing orang menyadari mereka harus siap-siap untuk menunaikan ibadah maghrib. Tanpa diberitahu dan diperintah masing-masing orang mulai membersihkan jamuan tersebut untuk tempat sholat. Mereka saling bahu membahu bersama. Dan ketika iqamah dikumandangkan, tempat tersebut telah bersih dan masing-masing orang meluruskan dan merapatkan barisannya untuk menghadap Illahi Rabbi…

Ketika berada di Masjidil Haram, hamba itu berusaha mengikuti sholat tarrawih dengan khusyu’. Bacaan sholat yang begitu panjang tak menjadi penghalang baginya. Disebelahnya ada seorang arab yang masih memakai ihram. Disela-sela salam diantara dua rakaat tarawih, ia tersenyum kepada hamba itu. Sampailah di rakaat ketika sang imam membaca ayat:

“Telah dekat terjadinya hari kiamat, tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu tertawa dan tidak menangis? Sedang kamu melalaikannya? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” (QS An Najm [53]:57-62)

Saat itu airmata tidak tertahankan lagi. Sang imampun menagis tersedu-sedu. Ada jeda yang panjang saat itu. Semua makmum menangis begitu hina dihadapan Rabb mereka Yang Maha Agung. Sampai akhir sholat hamba itu terus menangis. Ketika selesai salam, teman arab disebelahnya bertanya dalam bahasa arab. Hamba itu bingung menjawabnya. Teman arabnya itu kemudian bertanya lagi dalam bahasa inggris yang baik. “Kenapa Engkau menangis.” Hamba itu menjawab, “Karena aku mencintai Rabb ku Yang Maha Agung.” Teman arabnya kemudian bertanya lagi “Engkau mengerti surah apa yang dibaca oleh imam tadi?” Hamba itu mengangguk dan berkata, “Akhir surah An Najm, salah satu surah yang sering Rasulullah saw baca di akhir malam dan salah satu surah yang aku sukai.” Ia tersenyum dan berkata, “Masya Allah” engkau benar-benar mencintai Rabb mu dan mencintai Rasul yang mulia.” Mereka berpelukan. Seolah seorang sahabat alam yang telah lama tidak berjumpa. Hati mereka tertautkan oleh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Begitu damai malam itu bagi sang hamba.. Suatu malam yang tidak pernah terlupakan sepanjang hidupnya.

Pernahkah kita menyadari, hal-hal yang terindah dalam hidup kita adalah ketika kita menghubungkan tali silaturahim diantara kita karena Allah ‘Azza wa Jalla. Kita saling mengasihi, saling tolong menolong saling memberi walaupun hanya sekedar senyuman, saling bertegur sapa dan saling bersenda gurau. Semua itu terasa begitu indah. Inilah salah satu essensi dari bulan Ramadhan yang penuh rahmat dan berkah ini, menjaga silaturahim agar tetap terjaga.

Rasulullah bersabda, “Ramadhan adalah bulan yang permulaannya terdapat rahmat, pertengahannya terdapat maghfirah (ampunan) dan penghujungnya terdapat pembebasan dari api neraka. Barangsiapa memberikan minuman berbuka kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minuman dari telagaku kelak di padang mahsyar (tempat berkumpul di akhirat) yang siapa meminumnya maka ia tidak akan pernah merasa kehausan sehingga ia masuk surga” (HR Bukhari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: