Membiasakan Jujur by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

Membiasakan Jujur
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu perbuat. Sesungguhnya Allah mencintai orang –orang yang berjuang di jalan-Nya dalam satu barisan seakan-akan mereka bangunan yang tersusun rapi.” (QS Ash Shaff [61]:2-4)

Salah satu akar kata dari Ramadhan adalah “mengasah”. Dikatakan demikian adalah karena di bulan Ramadhan kita dibiasakan untuk mengasah sifat-sifat baik yang ada dalam diri kita. Salah satu sifat itu adalah kejujuran. Puasa adalah merupakan ibadah dalam ranah ‘pribadi’ bukan ‘berjamaah’, sehingga dampak dari mengasah sifat-sifat baik tersebut akan muncul dan terlihat dalam akhlak seseorang. Yang mengetahui sebaik apa kualitas puasa seseorang hanya dirinya sendiri dan Allah SWT.

Rasulullah saw pernah mengingatkan para sahabat-sahabatnya dengan bersabda, “Barangsiapa yang tidak suka meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatan palsu ketika ia sedang berpuasa, maka Allah tidak membutuhkan darinya lapar dan hausnya itu.” (HR Bukhari)

Dalam QS Ash Shaff ayat 2-4 diatas Allah SWT mengingatkan kita bahwa Allah ‘Azza wa Jalla amat membenci dusta dan perbuatan palsu dikarenakan terjadinya kebohongan dan perbuatan palsu dapat menyebabkan krisis kepercayaan dalam sebuah hubungan antar manusia. Hal ini bisa dijelaskan dengan suatu keadaaan dimana anda pernah berbohong kepada teman anda atau melakukan perbuatan palsu yang merugikan teman anda tersebut. Hal ini berdampak pada hilangnya kepercayaan teman anda kepada anda dan baginya akan sulit untuk mempercayai anda kembali.

Dalam ayat datas juga, Allah SWT mengingatkan hamba-hamba-Nya bahwa Allah sungguh mencintai orang-orang yang selalu berjuang dijalan-Nya yang salah satu bentuk perjuangan itu adalah berusaha menegakkan kebenaran (kejujuran). Kejujuran akan membawa kebaikan karena dengannya manusia saling berhubungan dalam kerangka saling percaya dan saling menghormati. Mereka akan saling menguatkan satu sama lain dan Allah SWT mengumpamakannya seolah-olah mereka seperti membangun sebuah bangunan yang kokoh dan tersusun rapi.

Pernahkah kita merenung, apa jadinya jika sifat kejujuran dalam sebuah rumah tangga telah pupus dan terabaikan? Si suami membohongi istrinya, demikian juga dengan sang istri berbohong kepada suaminya. Tak terlepas juga anak-anak yang selalu ingin dipandang baik oleh orang tuanya dengan selalu melakukan kebohongan dan perbuatan palsu? Sedang sang suami yang ingin selalu dipandang lebih dan berwibawa di depan istri dan anak-anaknya harus berbohong akan segala yang telah ia raih dipekerjaannya? Dapat dipastikan rumah tangga itu tidak akan bertahan lama dan jikapun bertahan akan hilang keberkahan dan ketentraman yang ada di dalamnya.

Marilah kita membiasakan diri kita untuk jujur baik kepada diri kita sendiri maupun orang lain. Mudah-mudahan bulan ramadhan yang akan menyapa kita sebentar lagi akan dapat mengasah sifat jujur yang ada pada diri kita sehingga akan membawa kebaikan terutama bagi rumah tangga yang kita bangun bersama dengan istri dan anak-anak kita. Kejujuran ibarat sebuah fondasi kokoh bagi sebuah tempat yang nyaman dan tentram bagi kita untuk berdiam.

Wallahu ‘alam Bissawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: