Ikhlas Karena Allah by Mohammad Yasser Fachri. Re-posted by Iqraa A.

Ikhlas Karena Allah
11 Sya’ban 1430H (2 Agustus 2009)

Allah SWT berfirman, Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS Al An’aam [6]:162-163)

Seorang teman berkata ketika sedang mengerjakan ibadah umroh pada bulan ramadhan beberapa tahun yang lalu, “Begitu banyaknya hamba Allah yang mengharap akan ibadah mereka diterima disisi Allah SWT. Apakah semua ibadah mereka akan diterima sisi-Nya?” Hamba itu hanya terdiam, pertanyaan yang serupa itu pun terlintas dalam pikirannya.

Ia melihat beribu-ribu orang yang sedang beribadah saat itu di Masjidil Haram. Mereka berusaha mengetuk pintu rahmat Allah dengan berbagai cara, ada yang berthawaf, sa’i, membaca Al Quran, mengerjakan sholat sunnat dan bermunajat kepada Allah SWT. Tapi adakah dari mereka mengetuk pintu rahmat Allah itu dengan segala kerendahan hati sebagai seorang hamba? Ikhlas karena mencari ridha Alla h semata? Tanpa keinginan sedikitpun untuk memperoleh cita-cita dunia? Atau pujian dari kerabat mereka yang mengetahui bahwa mereka ber umroh di bulan ramadhan? Mungkin hanya segelintir hamba-Nya yang mampu melakukannya.

Dalam beribadah kepada Allah, pikiran kita selalu dipenuhi oleh berbagai macam tujuan. Ada yang mengharap akan pujian dari orang-orang terdekatnya atau kaum kerabatnya. Demikian juga iming-iming pahala yang berlimpah dan menggiurkan selalu menjadi incarannya. Dan yang paling ser ing muncul adalah kita menganggap setelah kita beribadah sebanyak-banyaknya, sekhusyu’-khusyu’nya dan dengan sebaik-baiknya, Allah ‘Azza wa Jalla akan memberi imbalan dengan memperturutkan keinginan kita dalam mencapai sesuatu yang kita cita-citakan di dunia ini. Dan ketika hal itu tidak juga datang, kita kecewa dan berkata: “Aku sudah ber umroh pada bulan ramadhan, aku sudah berdoa di masjidil haram dan semua sudah kulakukan, tapi hidupku tak berubah juga!” Seberapa ikhlaskah hati kita dalam beribadah?

Dalam sebuah pertemuan, Rasulullah saw menjelaskan sebua h hadish Qudsi kepada para sahabatnya. Allah berkata, “Aku adalah Zat yang tidak membutuhkan persekutuan. Barangsiapa dari hamba-Ku yang mengerjakan suatu amal, yang didalamnya ia menyekutukan selain Aku, maka amal itu menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku berlepas diri darinya.” (HR Muslim)

Salah satu hal penting yang harus kita persiapkan dalam men yongsong datangnya bulan yang penuh keutamaan ini adalah menata diri kita agar hati kita terbiasa ikhlas dalam beribadah kepada-Nya. Bukankah saat terindah bagi seorang hamba Allah adalah ketika ia beribadah kepada Rabb nya dengan segala keikhlasan hati hingga tanpa terasa matanya basah oleh air mata, hatinya tergetar oleh rasa haru, dan jantungnya berdegup keras karena rindu kepada Allah ‘Azza wa Jalla? Pernahkah kita merasakannya? Janganlah kita termasuk orang-orang yang dikatakan Rasulullah saw dalam sebuah sabdanya yang begitu menggugah,

“Betapa banyak orang yang berpuasa di bulan ramadhan tetapi mereka tidak memperoleh apapun di sisi Allah kecuali rasa lapar dan haus saja.” (HR Muslim dan Ahmad)

Rasulullah saw mengajarkan sebuah doa. Mudah-mudahan doa ini menjadi sarana bagi kita untuk memperoleh keikhlasan.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cinta-Mu, dan cinta hamba yang mencintai-Mu, dan ajari aku amal shaleh yang mengantarkan aku untuk memperoleh cinta-Mu.'” (HR. Ath-Thabrani, Ahmad, Al-Hakim, At-Tirmidzi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: